Iklan

Pilih Pemimpin yang Beriman. Bukan Zalim, Fasik, atau Munafik



Kebakaran kemarin menewaskan 3 orang. Saat penjambretan berulangkali terjadi di dekat rumah, berkali2 lapor polisi tak ada yang datang. Itulah jika pemimpinnya tidak ahli. Bisa membuat binasa. Pemimpin yg tidak ahli bisa menewaskan warganya dgn kebakaran, kejahatan yang merajalela, kecelakaan, dsb: Kalau konsisten mengikuti Al Qur’an dan Sunnah, harusnya juga tegas HARAM memilih Pencuri/Koruptor dan Orang yang Tidak Ahli Sebagai Pemimpin karena itu juga dilarang Allah dan RasulNya karena akan menghancurkan/membinasakan suatu bangsa. Apalagi yang disebut Al Qur’an itu yang harus dipilih MUKMIN (Orang yang BERIMAN). Bukan Muslim. Orang yang beriman insya Allah tidak dusta, tidak ingkar janji, dan tidak khianat. Contoh pemimpin Mukmin coba tonton film Omar…:)

Nabi: ‘Hai para manusia! Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu itu rusak/binasa dikarenakan apabila orang-orang yang mulia diantara mereka mencuri, mereka bebaskan. Tetapi, apabila orang yang lemah mencuri, mereka berikan kepadanya hukum’. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, Dariini, dan Ibnu Majah)

Pilih pemimpin yang Ahli/Amanah sebab jika tak ahli kita semua akan hancur/binasa:

“Apabila perkara (urusan) diserahkan kepada selain ahlinya, maka nantikanlah kiamat/kehancuran.” [HR Bukhari]

“..janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan..” [Al Baqarah:195]

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Damkar PB) DKI Jakarta, mencatat sepanjang 2011, tercatat terjadi 948 kasus kebakaran di wilayah DKI Jakarta (sehari hampir 3x). Selain itu juga tercatat sebanyak 18 orang tewas akibat kebakaran (Inilah.com). 1 Kebakaran bisa menghanguskan 10 rumah atau lebih. 1 rumah biasanya dihuni 5 orang. Jadi puluhan ribu orang terpaksa harus mengungsi atau jadi gelandangan karena kebakaran.

Tahun 2011, ada 339 kasus tawuran (yang tercatat) yang menewaskan 82 orang dan melukai ribuan siswa. Ini karena pemerintah tidak mampu mengawasi dan tidak tegas. Saat saya lapor polisi bahwa akan ada tawuran di mana massa sudah berkumpul dan membawa senjata. Polisinya tanya: “Sudah tawuran apa belum? Kalau kami ke sana dan tidak tawuran, terus gimana?” Polisi rupanya menunggu tawuran dulu di mana kemungkinan korban akan jatuh dulu. Bukan mencegahnya. Ini belum tawuran antar warga, tawuran antar preman, geng, atau mafia. Di antara penyebabnya adalah rebutan lahan/tanah atau mencari makan. Hal ini tak akan terjadi jika pemerintah membagi tanah secara adil dan bisa mensejahterakan rakyatnya.

Di Detik.com diberitakan bahwa dalam 14 hari, jumlah pemudik yang tewas 908 orang: “Ada 5.233 kejadian kecelakaan atau mengalami kenaikan sebesar 10,3 dibandingkan tahun 2011 dan meninggal 908 korban jiwa. Kendaraan yang terlibat masih didominasi oleh sepeda motor sebesar 72 persen,” kata Menteri Perhubungan, EE Mangindaan. “Sepeda motor mengalami kenaikan sebesar 23,78 persen (dari jumlah 1.568.852 unit pada 2011 menjadi 1.941.914 pada tahun 2012). Sedangkan mobil pribadi naik sebesar 13,85 persen (dari jumlah 934.000 unit pada 2011 menjadi 1.063.394 unit kendaraan pada tahun 2012),” ujar Mangindaan.

Ada 5000 tiket KA yang hangus. Bis2 dan KA penuh sehingga hampir 2 juta orang memilih naik sepeda motor di mana sepeda motor bekas bisa dibeli seharga rp 2-3 juta saja. Akibatnya 908 orang tewas sementara lebih dari 1200 orang luka berat/cacat. Ini akibat pemerintah gagal menyediakan angkutan umum yang terjangkau dan aman dalam jumlah yang cukup. Zaman dulu orang jarang mudik pakai sepeda motor. Jika tidak pakai angkutan umum, mereka memakai mobil. Bukan sepeda motor meski saat itu sepeda motor juga sudah ada.

Pemimpin yang ahli bisa membuat kekayaan alam dan perekonomian dinikmati sebesar-besarnya oleh rakyatnya sendiri. Bukan orang asing. Sebaliknya, pemimpin yang tidak ahli akan menyerahkan kekayaan alam dan perekonomiannya kepada pihak asing (mis: investor asing, dsb). Contohnya 90% migas, emas, dan perak Indonesia dikelola perusahaan2 asing seperti Chevron, Exxon, Freeport, dsb. Oleh Freeport, Indonesia cuma diberi 1% dari emas dan perak yang mereka dapat. Tak heran jika Freeport kaya, sementara mayoritas rakyat Indonesia akhirnya melarat dan miskin. Itu pun kemungkinan besar bukan cuma emas, perak, dan tembaga yang mereka dapat. Tapi hasil tambang lainnya seperti uranium, dsb. Sementara pendapatan rakyat Malaysia 5x lipat dari Indonesia sedang Brunei 30x lipat dari Indonesia:

http://infoindonesia.wordpress.com/2009/06/30/selama-kekayaan-alam-dirampok-asing-indonesia-akan-terus-miskin/

Kemiskinan ini akhirnya membuat sebagian rakyat jadi pencuri atau perampok yang kadang akhirnya membunuh dalam menjalankan aksinya. Kemiskinan ini pula yang membuat mayoritas rakyat Indonesia membeli motor yang bisa didapat dengan harga murah. Cicilan sepeda motor baru hanya Rp 500 ribu/bulan (1/4 dinar) sementara harga sepeda motor bekas cuma Rp 2-3 juta saja. Namun saat kecelakaan, para pengemudi motor dan anak-anaknya ini mudah sekali tewas karena terjatuh ke jalan atau tertabrak/tergilas mobil yang ada di belakangnya.

Banyak negara yang mengelola sendiri kekayaan alamnya menjadi makmur seperti Norwegia, Iran, Arab Saudi, Venezuela, Bolivia, dsb.

https://agusnizami.wordpress.com/2012/08/26/pilih-pemimpin-yang-beriman-bukan-zalim-fasik-atau-munafik/Di dalam Islam, kita diperintahkan Allah untuk memilih pemimpin yang beriman/mukmin:

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. “ (An Nisaa 4:138-139)

“Janganlah orang2 mukmin mengambil orang2 kafir jadi pemimpin, bukan orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, bukanlah dia dari (agama) Allah sedikitpun…” (Ali Imran:28)

Meski demikian, kita harus hati-hati dalam memahami memilih pemimpin yang beriman. Karena banyak juga pemimpin yang zalim, korup, dan tidak peduli rakyat, namun menjual agama agar rakyat memilihnya sebagai pemimpin yang beriman. Akibatnya begitu terpilih, rakyatnya sengsara, miskin, dan melarat. Tak jarang ada rakyatnya yang mati terbunuh atau kelaparan karena kezalimannya.

Pada ayat di atas, kita dilarang mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang yang beriman (Mukmin). Ayat-ayat di atas menyatakan MUKMIN (Orang yang BERIMAN) yang harus dipilih. Bukan MUSLIM (orang yang KTP-nya Islam) tapi perkataan dan perbuatannya bertentangan dengan Islam.

Selain itu, meski pemimpin yang kita pilih itu Islam, tapi kalau dia tunduk pada Presiden AS dan bekerja untuk kepentingan perusahaan-perusahaan AS sehingga kekayaan alam dan ekonomi Indonesia dikuasai perusahaan-perusahaan AS macam Chevron, Exxon, Freeport, dsb, itu sama saja kita mengangkat orang-orang kafir jadi pemimpin. Cuma pakai boneka/perantara/proxy! Jika pemimpin kita (meski Muslim) menganggap orang-orang kafir sebagai pemimpin mereka yang harus ditaati meski menelantarkan rakyatnya sendiri, maka mereka tidak layak kita pilih.

Meski pemimpin dan wakilnya Muslim, jika keduanya bekerja untuk kepentingan segelintir pengusaha asing/kafir (misalnya menggusur pasar rakyat dan menyerahkannya pada pengusaha non Muslim untuk dibangun Mal seperti di Tanah Abang dan Melawai atau menyerahkan kekayaan alam dan ekonomi Indonesia ke perusahaan2/investor asing/kafir, merampas puluhan juta hektar tanah rakyat untuk diberikan kepada pengusaha asing/kafir), pada dasarnya mereka ber-wala (mengangkat pemimpin) orang2 yang kafir…

Islam sebagaimana Surat Al Hujuraat ayat 14 membedakan antara Muslim (orang Islam) dengan Mukmin (orang yang beriman):

قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Al Hujuraat 14]

Orang yang menyatakan Islam, semua disebut Muslim. Tapi tidak semua Muslim bisa disebut beriman. Kita tidak bisa mengukur Iman seseorang. Tapi dari akhlaknya, sikapnya, dan amal salehnya, kita bisa meraba apakah orang itu beriman atau tidak.

Pada zaman Nabi dan para Khalifah, kita tidak akan ragu lagi akan keimanan Nabi, Khalifah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Meragukan keimanan mereka adalah ciri dari kesesatan/kekafiran. Khalifah Umar sebagai contoh tidak mau memakan daging selama rakyatnya kesulitan. Bahkan saat bantuan daging makanan datang pun beliau memberikannya untuk rakyatnya. Beliau tetap tidak mau makan daging. Khalifah Umar juga rajin berkeliling kampung untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Saat ada rakyatnya yang kelaparan, beliau angkut sendiri karung makanan tersebut dari gudang negara ke rumah rakyatnya. Saat ajudannya menawarkan untuk membantu mengangkutnya, khalifah Umar menolak. “Adakah engkau nanti bisa menggantikan aku disiksa di neraka nanti?”, begitu kata Umar. Nah kalau pemimpin yang beriman macam ini kita tinggalkan dan justru memilih yang kafir, kita tentu jelas berdosa.

Masalahnya pemimpin Muslim yang ada sekarang sebagaimana surat Al Hujuraat 14, belum tentu orang yang beriman. Jadi belum tentu layak dipilih. Jika berbahaya, malah haram untuk dipilih.

Coba lihat kriteria orang yang beriman:

Ciri pertama orang yang beriman adalah mencintai Nabi Muhammad melebihi dari keluarganya, hartanya, dan semua orang:

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Seorang hamba (dalam hadis Abdul Warits, seorang laki-laki) tidak beriman sebelum aku lebih dicintainya dari keluarganya, hartanya dan semua orang. (Shahih Muslim No.62)

Rasanya sih di Indonesia jarang ada orang seperti itu…

Nabi saw. bersabda: Salah satu di antara kalian tidak beriman sebelum ia mencintai saudaranya (atau beliau bersabda: tetangganya) seperti mencintai diri sendiri. (Shahih Muslim No.64)

Orang yang beriman itu tidak akan korupsi/mencuri, berzina, atau pun minum arak:

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri ketika mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman. (Shahih Muslim No.86)

Jadi kalau ada orang yang korupsi/mencuri, misalnya Korupsi Al Qur’an, meski gelarnya ustad atau fasih membaca ayat Al Qur’an, pada dasarnya dia bukan orang yang beriman.

Sebaliknya seorang koruptor/pencuri, bukan cuma haram diangkat pemimpin. Tapi dia harus dihukum Hudud/potong tangan. Jika tidak, kaum itu akan binasa:

Dari Aisyah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: adakah patut engkau memintakan kebebasan dari satu hukuman dari beberapa hukuman (yang diwajibkan) oleh Allah? Kemudian ia berdiri lalu berkhutbah, dan berkata: ‘Hai para manusia! Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu itu rusak/binasa dikarenakan apabila orang-orang yang mulia diantara mereka mencuri, mereka bebaskan. Tetapi, apabila orang yang lemah mencuri, mereka berikan kepadanya hukum’. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, Dariini, dan Ibnu Majah)

Orang yang beriman, tidak akan suka bermewah-mewahan dan hidup boros. Karena pemboros itu menurut Allah adalah temannya Setan:

”Berikanlah hartamu kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros.

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” [Al Israa’:26-27]

Jadi kalau ada pemimpin “Islam” yang mengkoleksi banyak mobil mewah macam Alphard yang milyaran rupiah atau jam tangan puluhan juta rupiah padahal dengan harga sepersepuluhnya saja sudah dapat barang serupa yang bagus, maka itu adalah pemboros yang merupakan temannya setan. Bukan orang yang beriman meski mereka memakai titel ustad di depan namanya:

http://media-islam.or.id/2011/11/21/salahkah-pejabat-bermewah-mewahan-di-tengah-kemiskinan-rakyat/

Orang-orang yang boros, akhirnya akan berusaha mendapatkan uang sebanyak-banyaknya meski dari seorang koruptor. Inu Kencana, seorang dosen IPDN yang jujur mengeluh dimintai uang “Dana Kampanye” Rp 3 milyar jika ingin jadi Calon Walikota dan Rp 8 milyar untuk jadi Calon Gubernur dari sebuah partai yang katanya Partai “Dakwah”. Bagaimana saya bisa punya uang sebanyak itu jika saya cuma seorang dosen? Kalau punya segitu, tentu saya seorang koruptor. Begitu kata Inu. Partai yang sama sempat mendukung seorang pejabat Polri jadi Calon Gubernur meski istri pejabat ini akhirnya diberitakan kabur ke luar negeri karena kasus suap. Begitu pula setelah sebulan sebelumnya menyuruh orang-orang untuk tidak memilih “Fulan” karena korupsi dan dilaporkan wakilnya sendiri ke KPK karena korupsi, tak lama kemudian diputaran ke2 justru mati-matian membela calon yang sebelumnya mereka tuduh korup. Apa tidak takut makan uang haram?

Padahal jika makan uang haram, maka kita akan jadi penghuni neraka:

Rasulullah SAW: Janganlah kamu mengagumi orang yang terbentang kedua lengannya menumpahkan darah. Di sisi Allah dia adalah pembunuh yang tidak mati. Jangan pula kamu mengagumi orang yang memperoleh harta dari yang haram. Sesungguhnya bila dia menafkahkannya atau bersedekah maka tidak akan diterima oleh Allah dan bila disimpan hartanya tidak akan berkah. Bila tersisa pun hartanya akan menjadi bekalnya di neraka. (HR. Abu Dawud)

Dari uang haram itu, mereka beri makan anak dan istrinya. Padahal Nabi berkata:

Tiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya. (HR. Ath-Thabrani)

http://media-islam.or.id/2009/08/25/menjaga-diri-dan-keluarga-dari-harta-yang-haram/

Selain itu kita lihat pemimpin itu bekerja untuk siapa? Untuk memberdayakan rakyatnya yang mayoritas Islam. Ataukah bekerja untuk kepentingan perusahaan2 AS yang mayoritas dikuasai Yahudi dan Nasrani? Miskin dan melaratnya Indonesia disebabkan para pemimpin kita bekerja untuk kepentingan perusahaan zionis Yahudi seperti Chevron, Exxon, Freeport, dsb sehingga kekayaan alam seperti migas, emas, tembaga, dsb yang nilainya ribuan trilyun rupiah/tahun, bukannya dinikmati rakyat Indonesia malah dinikmati AS dan Israel. Sebagai contoh Freeport hanya memberi Indonesia 1% dari emas dan perak yang didapat.

Orang yang beriman itu punya rasa malu. Jika dia gagal atau korupsi, niscaya dia mundur:

Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Iman itu ada enam puluh lebih cabangnya, dan malu adalah salah satu cabang iman.”[HR Muslim]

Orang yang beriman juga amal-amal salehnya nyata terlihat. Seorang pemimpin, maka amal jariyahnya atau amal sosial kepada rakyatnya terlihat jelas. Bukan cuma untuk 1-2% rakyatnya, tapi seluruh rakyat yang membutuhkannya:

“..Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” [Az Zukhruf 72]

Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang mendampingkan kata beriman dengan beramal saleh (Alladziina aamanuu wa ‘aamilush shoolihat):

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Orang-orang yang beriman dan beramal saleh (Muhammad 2]

Jadi kalau amal salehnya/perbuatan baiknya nyaris tidak ada yang bisa dinikmati oleh sebagian besar rakyatnya, maka dia bukanlah orang yang beriman.

Orang yang beriman jika berkata selalu benar, jika janji selalu menepatinya, dan jika diberi amanah, dia melaksanakan amanah tersebut. Sebaliknya jika dia berdusta, ingkar janji, dan khianat, itu bukan orang yang beriman. Tapi munafik:

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Ada tiga tanda orang munafik; apabila berbicara ia berbohong, apabila berjanji ia mengingkari dan apabila dipercaya ia berkhianat. (Shahih Muslim No.89)

Orang yang beriman tidak akan mengkafirkan sesama Muslim:

Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan). (Shahih Muslim No.91)

Orang yang beriman juga tidak akan membantai rakyatnya sendiri. Betapa banyak para pemimpin yang membiarkan tanah rakyatnya dirampas oleh para pengusaha. Begitu rakyat tersebut berusaha mengambil kembali tanahnya, pemimpin tersebut memerintahkan aparat untuk menembak mati rakyatnya sendiri. Itu bukan orang yang beriman:

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Barang siapa menghunus pedang kepada kami, maka ia bukanlah dari golongan kami. (Shahih Muslim No.143)

“Sesungguhnya Allah akan melindungi negara yang menegakkan keadilan walaupun ia kafir, dan tidak akan melindungi negara yang dzalim (tiran) walaupun ia muslim”. (Mutiara I dr Ali ibn Abi Thalib)

Pilihlah pemimpin yang jujur:

Dari Ma’qil ra. Berkata: saya akan menceritakan kepada engkau hadist yang saya dengar dari Rasulullah saw. Dan saya telah mendengar beliau bersabda: “seseorang yang telah ditugaskan Tuhan untuk memerintah rakyat (pejabat), kalau ia tidak memimpin rakyat dengan jujur, niscaya dia tidak akan memperoleh bau surga”. (HR. Bukhari)

Pilih pemimpin yang Ahli/Amanah sebab jika tak ahli kita semua akan hancur/binasa:

“Apabila perkara (urusan) diserahkan kepada selain ahlinya, maka nantikanlah kiamat/kehancuran.” [HR Bukhari]

Ada pemimpin Muslim yang justru membunuh rakyatnya sendiri. Sayyid Quththub dan Hasan Al Banna tewas dibunuh oleh penguasa Muslim yang zalim. Pada saat seperti itu, maka mengungsi ke negeri yang dipimpin kaum kafir tapi mau melindungi diperbolehkan. Ini adalah kondisi darurat seperti babi yang haram, jadi halal di kala darurat. Beberapa ulama seperti Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha, Abu A’la Al Maududi, Nabbani, dsb memilih mengungsi ke Eropa yang dikuasai kaum kafir ketimbang dibunuh penguasa Muslim di negerinya:

“..janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan..” [Al Baqarah:195]

Pilih pemimpin yang mau mencegah dan memberantas kemungkaran seperti korupsi, nepotisme, manipulasi, dll:

“Barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka hendaknya merubah dengan lisannya, jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itulah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim)

Rujukan:

http://www.inilah.com/read/detail/1814675/tahun-2011-18-orang-tewas-karena-kebakaran

http://bangka.tribunnews.com/2012/09/01/keberanian-tanti-menyelamatkan-nyawa-anak-bungsunya

http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/12/05/05/m3ixh2-kebakaran-di-kelapa-gading-satu-tewas

http://nasional.kompas.com/read/2011/12/21/06110685/Kehidupan.Pelajar.di.Jakarta.Meresahkan

http://news.detik.com/read/2012/09/03/124701/2006156/10/menhub-ada-5233-kecelakaan-mudik-lebaran-korban-tewas-908-orang?9922022

http://infoindonesia.wordpress.com/2009/06/30/selama-kekayaan-alam-dirampok-asing-indonesia-akan-terus-miskin/

Iklan

2 Tanggapan

  1. Mohon ijin buat di share yak..

    • Silahkan disebar-luaskan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: