Iklan

Don’t Talk About Religion or Politics


“Don’t Talk About Religion or Politics”

Jangan bicara soal agama atau politik, begitu kata pepatah Barat.

Artinya dalam menjaga keharmonisan hubungan, hindari pembicaraan soal agama atau politik. Karena bisa jadi perpecahan.

Kecuali jika memang kita sepaham.

Dalam Islam pun meski dakwah Islam tetap harus dilakukan, namun sebaiknya di tempat umum. Jika pun langsung, itu berupa surat resmi kenegaraan dengan stempel negara.

Lakum dinukum wa liya diin. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku, begitu firman Allah dalam surat Al Kaafiruun. Terlalu nyinyir berdakwah sehingga debat berkepanjangan apalagi sampai bermusuhan dilarang Allah:

وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ

“Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.” [Yaasiin 10]

Kita hanya memberi peringatan bagi orang yang mau mengikuti. Bukan orang yang jelas-jelas menentang kita:

إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ

“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” [Yaasiin 11]

Terhadap orang-orang yang “ngeyel” kita tidak berkewajiban berdebat terus menerus dengan mereka. Kasarnya terhadap orang-orang kafir yang masuk neraka saja kita tidak akan dimintai pertanggung-jawaban atas mereka sehingga tidak harus nyinyir “berdakwah” kepada mereka. Apalagi terhadap sesama Muslim dengan dalih “menghidupkan Sunnah.” Gemar berdebat bukan Sunnah Nabi!

“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.” [Al Baqarah 119]

Kalau di Wall saya, tentu saya bebas menulis tentang pandangan saya soal politik dan agama. Begitu pula di forum2 umum seperti grup atau page.

Namun di wall orang lain, harus hati-hati. Belum tentu mereka sepaham dgn kita yg akibatnya berujung debat panjang dan perpecahan.

Saat ada yang menulis pandangannya tentang politik, meski saya tak setuju, saya menahan diri untuk meresponnya. Ini untuk menjaga hubungan baik. Apa yang saya pandang baik, belum tentu menurut dia begitu. Pola pandang manusia berbeda.

Kecuali jika dalam hal agama dia keliru tak sengaja, dan kita koreksi. Misalnya ada yang menulis Istradj padahal harusnya istidraj. Yang dikoreksi kemudian berterimakasih.
Terlalu banyak berdebat/bertanya juga tidak baik.

Nabi Khaidir hanya memberi kesempatan 3 pertanyaan kepada Nabi Musa untuk bertanya sebelum kemudian mereka berpisah. Kaum Yahudi yang banyak bertanya-tanya, akhirnya nyaris tak bisa menemukan sapi yang harus mereka cari di surat Al Baqarah.

Jadi dalam hal politik dan agama, hindari perdebatan yang berkepanjangan.

Jika ingin menulis soal itu, tulislah di wall masing2 atau di forum umum. Jangan di wall orang lain yang jelas2 berbeda pandangan dgn kita. Kalau jagoan orang tsb justru kita hina2 dan jelek2an, apa mereka tidak tersinggung? Empati dan ilmu psikologi untuk merasakan perasaan itu perlu… Dakwah dan kampanye bagus, tapi tetap ada batasnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: