Iklan

Transmigrasi Petani Garam Pantura Ke Sumatera dan Kalimantan untuk Garam Bersih


Saya lihat Indonesia melalui Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu ingin impor garam RP 1 trilyun/tahun yang di antaranya berasal dari Singapura. Singapura kemungkinan membeli garamnya dari India.

Alasan pengusaha enggan membeli garam Indonesia adalah karena hasil garamnya yang kotor sehingga perlu dicuci.

Saya lihat sebagian petani garam ada di Pantura pulau Jawa. Sebagai pulau terpadat di dunia dan banyak pabrik-pabrik yang mencemari sungai dan laut, masuk akal jika garam di Pantura jadi kotor.

Harusnya ketimbang menghabiskan uang Rp 1 trilyun/tahun untuk impor garam, pemerintah menggunakan uang itu untuk transmigrasi Petani Garam ke Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi yang pantainya relatif bersih sehingga didapat garam yang bersih. Ini lebih baik ketimbang mengimpor garam dari Singapura atau pun India. Apalagi Indonesia sebagai negara dengan pantai terluas kedua di dunia harusnya bisa jadi pengekspor garam terbesar ke2 di dunia. Bukan importir garam.

Berita Tentang Impor Garam:

Jabar tak Perlu Impor Garam

Foto: Istimewa
Oleh: Yatni Setianingsih

INILAH.COM, Depok – Provinsi Jawa Barat (Jabar) masih belum perlu untuk mengimpor garam seperti yang diajukan Asosiasi Pengusaha Garam (APG) Jabar.

“Kebutuhan garam di Jabar mencapai 129 ribu ton per tahun, saat ini baru bisa memenuhi 60 ribu ton per tahun, tetapi jika digenjot, Jabar bisa menghasilkan 150 ribu ton per tahun,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar Ferry Sofwan Arief kepada wartawan di Hotel Bumi Wiyata, Kota Depok Kamis (8/12/2010).

Lebih lanjut dia mengatakan, minimnya produksi garam di Jabar karena anomali cuaca yang tidak menentu. Selain itu, kata dia, proses sedimentasi dari ladang garam yang semakin melebar dan kualitas air laut yang kotor juga menjadi faktor lainnya.

“Para pengusaha garam lebih memilih garam impor dari Australia dan India dibandingkan garam lokal, pasalnya garam impor dianggap tidak memerlukan biaya produksi yang lebih tinggi,” urainya.

Garam impor saat masuk produksi hanya melalui proses yodiumisasi dan pengemasan. Sementara garam lokal, kata Ferry, harus mulai dari tahap pencucian, yodiumisasi dan pengemasan.

“Untuk memenuhi kekurangan garam di Jabar, sebaiknya APG Jabar mengambilnya dari petani garam yang ada di Indonesia,” tuturnya.

Jika tetap impor, nasib petani garam di daerah Pantura akan terpuruk. Sebab, lanjut Ferry, para petani garam tidak memiliki pilihan pekerjaan lain.

http://teknologi.inilah.com/read/detail/1044622/jabar-tak-perlu-impor-garam/

Hebat. Fadel Muhammad bertengkar dengan Menteri Perdagangan Mari Elka Pengestu yang ngotot ingin impor garam sebesar Rp 1 trilyun/tahun. Diantaranya dari Singapura. Indonesia dgn pantai terbesar ke2 di dunia kok bisa impor garam dari Singapura? Mari Elka Pangestu jawabannya…
http://finance.detik.com/read/2011/09/07/102227/1717115/1036/fadel-pantai-terbesar-kedua-di-dunia-ri-kok-impor-garam

Rabu, 07/09/2011 10:22 WIB

Fadel: Pantai Terbesar Kedua di Dunia, RI Kok Impor Garam

Akhmad Nurismarsyah – detikFinance

Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad masih jengkel dengan kebijakan impor garam dari Kementerian Perdagangan. Apalagi Indonesia mempunyai pantai terbesar nomor dua di dunia.

Hal ini disampaikan oleh Fadel usai rapat koordinasi di kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (7/9/2011).

“Kita malu lah, bangsa kita besar. Kita punya pantai terbesar nomor dua di dunia tapi masih impor garam. Itu nanti dibahas jam 2,” tegas Fadel.

Dalam kesempatan itu Fadel mengatakan, pada prinsipnya dia akan menolak setiap garam impor yang masuk tanpa basa-basi.

“Sekarang kita lihat kalau dia untuk kebutuhan industri dan kita belum bikin itu oke, kita terbataslah kalau untuk industri. Tapi kalau untuk konsumsi rumah tangga kita stop saja. Kita tidak mau lagi,” kata Fadel.

Kisruh impor garam ini menimbulkan perseteruan antara Fadel dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.

Fadel menilai impor garam Indonesia sudah pada tahap kritis. Fadel juga mengaku berseteru dengan Mendag terkait izin impor garam yang memperpanjang izin kendati Indonesia sudah masuk masa panen. Namun Kementerian Perdagangan menyatakan impor garam dilakukan karena produksi lokal yang rendah.

Perseteruan soal impor garam ini juga menjadi perhatian Presiden SBY. Menurut Fadel, sikap SBY tak setuju ada impor garam yang berlebihan. Fadel menyerang Mendag karena garam impor yang masih masuk ke Indonesia dan menyalahi aturan impor garam. Seharusnya izin impor garam hanya diperbolehkan sampai Juli 2011.

Fadel mengatakan importir produsen (IP) yang terkena penyegelan garam impor adalah perusahaan-perusahaan importir skala besar atau kakap. Fadel mengakui importir garam yaitu PT Garindo Sejahtera Abadi dan PT Sumatraco Langgeng Makmur adalah perusahaan skala besar di bidang importir garam.

Pekan lalu Bea Cukai melakukan penyegelan garam impor di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara. Garam impor yang disegel sebanyak 29.050 ton sesuai manifes didatangkan dari India dengan menggunakan Kapal MV Good Princess. Penyegelan dilakukan sejak garam dibongkar dari kapal hingga masuk ke gudang penampungan.

http://finance.detik.com/read/2011/09/07/102227/1717115/1036/fadel-pantai-terbesar-kedua-di-dunia-ri-kok-impor-garam

Di bawah adalah berbagai berita bahwa sebenarnya ladang garam juga bisa dibuka di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dsb. Sebetulnya cuaca di Indonesia juga tak jauh beda dgn di Thailand, India, dsb. Berbagai hambatan harusnya bisa diatasi karena manusia itu kan punya akal. Belanda saja bisa membangun negerinya meski di bawah permukaan laut tanpa kebanjiran. Itu karena mereka punya akal untuk mensiasati hambatan yang ada:

http://www.antara-sulawesiselatan.com/berita/19557/produksi-garam-jeneponto-40000-tonProduksi

Garam Jeneponto 40.000 Ton

Rabu, 22 September 2010 21:43 WITA | EkonomiMakassar (ANTARA News) – Produksi garam Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan masih minim hanya mencapai 40.000 ton setiap tahun.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulsel, Zulkarnaen Arief, di Makassar, Rabu, mengatakan, produksi tersebut masih tergolong sedikit dibandingkan dengan potensi yang tersedia.

Menurutnya, dengan melihat besarnya potensi garam di Jeneponto, produksi garam di daerah tersebut dalam setahun seharusnya bisa mencapai 150.000 ton.

“Kabupaten Jeneponto adalah sentra produksi garam terbesar di Sulsel, dan harus terus dikembangkan sehingga jumlah produksi bisa sesuai dengan potensi yang ada,” tuturnya.

Jika produksi garam di Jeneponto bisa mencapai 150.000 ton per tahun, maka daerah tersebut akan menjadi daerah penghasil garam terbesar di Indonesia dan dapat menyaingi Madura.

http://www.tempo.co/hg/bisnis/2011/06/23/brk,20110623-342929,id.html

TEMPO Interaktif, Banda Aceh – Aceh Development Fund (ADF) dan mitranya akan membangun dua unit pabrik garam beryodium di Gampong Lancang, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, dan Gampong Alue Bie, Kecamatan Jangka, Bireuen.

Afrizal Tjoetra, Direktur Eksekutif ADF, mengatakan, kedua pabrik garam beryodium itu dibangun untuk membantu petani garam Pidie Jaya dan Bireuen dalam peningkatan kualitas dan kuantitas produksi garam.

“Kita berharap kedua pabrik garam beryodium itu dapat memenuhi kebutuhan garam berstandar nasional untuk masyarakat Aceh khususnya dan bisa dipasok ke sejumlah daerah lain di Sumatera,” katanya, Kamis, 23 Juni 2011.

Pabrik garam yang dibangun nantinya masing-masing bisa memproduksi 3 ton garam per hari. Pasokan bahan bakunya tersedia di lokasi binaan, yang mempunyai luas lahan 200 hektar dengan jumlah petani garam aktif mencapai 565 orang. “Industri garam itu nanti menjadi milik koperasi yang anggotanya petani garam setempat,” kata Afrizal.

http://www.wisatakaltim.com/berita/garam-krayan-diproduksi-di-pegunungan

Pribahasa garam dilaut asam di gunung, ternyata  tidak berlaku bagi warga Dayak Lundayayang tinggal perbatasan Kaltim. Peribahasa itu mesti dirubah, karena di daerah mereka tinggal, yang merupakan daerah dataran tinggi. Yaitu di Pegunungan Paris, atau tepatnya di Desa Long Midang, Kecamatan Krayan Kabupaten Nunukan Kaltim, justru ditemukan sentra-sentra industri garam.Padahal lokasi ini terletak sangat jauh dari laut. Mencapai 100 kilo meter. Yaitu 2400 diatas permukaan laut.  Namun itulah penomena alam, garam yang biasanya dibuat dengan bahan dasar air laut, justru dibuat dari air sumur. DI Krayan banyak ditemukan sentra sentra industri garam gunung ini..

Saya lihat perusahaan Australia, Cheetham Salt Ltd segera memulai produksi garam di NTT. Dengan Modal US$ 21 juta / Rp 180 milyar diharap bisa menghasilkan 150 ribu ton garam/tahun dgn kemurnian 98%. Bayangkan berapa ratus ribu ton yang bisa didapat dgn uang impor garam Rp 1 trilyun/tahun? Masak cuma di NTT, Pantura, dan Madura saja garam bisa diproduksi?:

http://www.batukar.info/news/cheetham-salt-mulai-produksi-garam-di-nagekeo-desember

Jakarta, NTT Online – Cheetham Sait Ltd, perusahaan garam Australia, segera memulai produksi do Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Desember setelah memperoleh izin penggunaan lahan dari pemerintah.Presiden Direktur PT Cheetham Salt Arthur Tanudjaja mengatakan rencana produksi diharapkan berjalan sesuai dengan jadwal, yang dimulai dengan proses kristalisasi garam pada akhir tahun ini.”Desember kami sudah berproduksi, sudah memulai proses kristalisasi. Sesuai dengan metode, kami akan mulai proses itu dengan pengambilan air laut,” katanya kemarin.Cheetam menggelontorkan US$21 juta untuk produksi garam industri di Nagekeo yang diharapkan mampu menghasilkan 150,000 ton garam dengan tingkat kemurnian 98% setiap tahun

Kalau mental awal kita bilang tidak bisa, ya tidak akan bisa.
Dari data di bawah:
http://en.wikipedia.org/wiki/Salt

Saya lihat garam itu sudah dibuat dari tahun 6000 sebelum masehi. Boleh di kata di berbagai belahan dunia bisa dibuat garam dengan cara menguapkan air laut.

Saya lihat dari peta di link atas garam dibuat di berbagai dunia seperti AS, Eropa, Cina, India, Thailand, Arab, Turki, Australia, dsb. Saya yakin di Indonesia juga bisa. Laut kita luas. Begitu pula pantai yang terpanjang ke 2 di dunia, apa iya tidak ada yang bisa dijadikan ladang garam? Sudah disurvey semua apa belum?

Nenek moyang kita dan kita kan selalu masak pakai garam. Saya tidak yakin kalau dulu nenek moyang kita sampai impor garam hingga Rp 1 trilyun/tahun.

Jika kita beranggapan bisa dan memang sungguh2 berikhtiar melakukan survey, saya yakin bisa. Bukan cuma pantura di Jawa atau madura saja yg bisa dijadikan ladang garam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: