Iklan

Bolehkah Berdzikir dengan Suara Keras dan Berjama’ah?


751. Ibnu Umar r.a. berkata, “Saya melihat Rasulullah mengendarai kendaraannya di Dzul Hulaifah. Kemudian beliau membaca talbiyah dengan suara keras sehingga kendaraan itu berdiri tegak.” [HR Bukhari]

767. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Usamah membonceng Nabi dari Arafah sampai Mudzalifah. Kemudian beliau memboncengkan al-Fadhl dari Mudzalifah sampai ke Mina. Ia, berkata, “Nabi selalu membaca talbiyah dengan suara keras sehingga beliau melempar jumrah Aqabah.” [HR Bukhari]


Pada riwayat di bawah disebut Nabi bertalbiyah dengan suara keras, kemudian seluruh manusia mengikutinya. Artinya Dzikir bisa dikerjakan dengan suara keras dan berjama’ah. Jadi jika ada orang yang bilang dzikir berjama’ah itu bid’ah, mungkin belum pernah baca dan paham hadits di bawah ini:

770. Anas r.a. berkata, “Rasulullah dan kami shalat zhuhur empat rakaat di Madinah dan shalat ashar dua rakaat di Dzul Hulaifah. Kemudian beliau bermalam di sana sampai pagi. Kemudian beliau berkendaraan sehingga ketika kendaraan itu sampai di Baida’, beliau memuji Allah, beliau membaca tasbih dan bertakbir. Kemudian beliau membaca talbiyah untuk haji dan umrah, dan seluruh manusia membaca talbiyah (dan saya mendengar mereka mengeraskannya) untuk haji dan umrah. (Dan dalam satu riwayat: Saya membonceng Abu Thalhah, dan mereka mengeraskan talbiyah untuk haji dan umrah 4/14). Ketika kami datang, beliau menyuruh manusia bertahalul, maka mereka bertahalul. Sehingga, pada hari tarwiyah mereka membaca talbiyah untuk haji, dan Nabi menyembelih beberapa ekor unta dengan tangan beliau sambil berdiri. Di Madinah Rasulullah menyembelih dua ekor kibas yang gemuk.” [HR Bukhari]

765. Dari Salim dari ayahnya (Ibnu Umar) r.a., ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah membaca talbiyah dengan suara keras dengan mengikatkan kain di kepalanya sambil mengucapkan (dan dalam satu riwayat: Bahwa bacaan talbiyah Rasulullah 2/147):

‘Labbaika Allahumma labbaik, laa syariika laka labbaik, innal-hamda wan-ni’mata laka wal-mulka, laa syariika laka’

‘Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku sambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah kepunyaan-Mu, demikian pula kekuasaan, tiada sekutu bagi-Mu (dengan tidak menambah kalimat lain dari ini. 7/59)’.” [HR Bukhari]

767. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Usamah membonceng Nabi dari Arafah sampai Mudzalifah. Kemudian beliau memboncengkan al-Fadhl dari Mudzalifah sampai ke Mina. Ia, berkata, “Nabi selalu membaca talbiyah dengan suara keras sehingga beliau melempar jumrah Aqabah.” [HR Bukhari]

Banyaknya sahabat yang mendengar dzikir dan do’a Nabi meski Nabi tidak mengajarkan menunjukkan bahwa berdzikir atau berdo’a dengan suara keras sesungguhnya dibolehkan. Jika berbisik-bisik, bagaimana para sahabat bisa mendengarnya? Yang penting tidak sampai berlebihan dan mengganggu:

769. Aisyah r.a. berkata, “Sungguh aku mengetahui bahwa Nabi mengucapkan talbiyah, yaitu:

‘Labbaikallaahumma labbaika, labbaika laasyariika laka labbaika, innal hamda wanni’mata laka’

‘Kami penuhi pangilan-Mu, ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu. Kami penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, kami penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan kenikmatan adalah bagi-Mu’.” [HR Bukhari]

Dari Abdullah bin az-Zubair radhiallahu ‘Anhuma bahwasanya ia mengucapkan setiap selesai mengerjakan shalat dan bersalam: La ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir. Lahaula wa la quwwata illabillah. La ilaha illallahu wa la na’budu illa iyyahu, lahun ni’mati wa lahuts tsana-ul hasan. La ilaha illallahu mukhlishina lahuddina walau karihal kafirun. -Artinya: “Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya adalah semua kerajaan dan puji-pujian dan Allah adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah. Tiada Tuhan melainkan Allah dan kita tidak menyembah selain daripadaNya. BagiNyalah segala kenikmatan dan keutamaan dan bagiNya pula puji-pujian yang baik. Tiada Tuhan melainkan Allah, kita berikhlas hati menjalankan agama untukNya, sekalipun orang-orang kafir membencinya”-. Abdullah bin az-Zubair berkata: “Rasulullah s.a.w. biasa membaca dengan bacaan yang tersebut di atas itu sehabis setiap bershalat.” (Riwayat Muslim)

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu berta’awwudz -yakni berdoa untuk mohon perlindungan- pada setiap selesai shalat dengan kalimat-kalimat ini -yang artinya- “Ya Allah, saya mohon perlindungan kepadaMu daripada licik dan kikir, saya mohon perlindungan pula padaMu kalau saya sampai dikembalikan kepada serendah-rendahnya usia -yakni usia terlampau tua-, juga saya mohon perlindungan padaMu daripada fitnah dunia serta saya mohon perlindungan padaMu daripada fitnah kubur.” (Riwayat Bukhari)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman -dalam hadits qudsi: “Aku adalah menurut sangkaan -keyakinan- hambaKu kepadaKu. Aku adalah beserta hambaKu itu apabila ia berdzikir -ingat- kepadaKu. Maka jikalau ia berdzikir kepadaKu dalam dirinya, maka Akupun ingat padanya dalam diriKu dan jikalau ia berdzikir kepadaKu di kalangan orang banyak, maka Aku ingat pada orang itu di kalangan makhluk yang lebih baik dari mereka itu -yakni di kalangan para malaikat.” (Muttafaq ‘alaih)

Lalu bagaimana dengan firman Allah di bawah :

Allah Ta’ala berfirman pula: “Dan berdzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan takut dan bukan dengan suara keras, di waktu pagi dan petang dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai” (al-A’raf: 205)

Itu adalah bahwa berdzikir dan berdo’a itu sebaiknya dengan suara yang lembut. Sebab ada orang yang berdzikir dengan suara keras secara berlebihan sehingga memekakkan telinga dan mengganggu.

Namun dengan berbagai Hadits Riwayat Bukhari (yang dianggap Hadits paling sahih) menunjukkan Nabi dan Sahabat juga pernah berdzikir dan bertakbir dengan suara keras untuk memberikan pengajaran kepada orang yang belum tahu dan juga untuk syiar Islam. Jadi harus dipahami secara hati-hati dan tidak kaku.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Sepertinya ulasan dari Pak Ismail Amin juga bagus untuk bahan renungan http://abi-azzahra.blogspot.com/2010/04/banyak-banyaklah-mengingat-allah.html ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: