Iklan

Pemikiran Atheist yang Keliru dari Stephen Hawking


Harusnya dengan kecacatannya seperti lumpuh dan nyaris tak bisa bicara, Stephen Hawking paham bahwa manusia itu lemah dan Allah adalah yang Maha Perkasa. Kelak setelah mati, jika tidak bertobat Hawking ini akan masuk neraka. Surga baginya cuma dongeng belaka…
http://media-islam.or.id/2010/03/11/seberapa-besarkah-bumi-kita-allah-maha-besar
http://media-islam.or.id/2007/09/06/bukti-tuhan-itu-ada

Dibilang pinter juga Stephen Hawking itu biasa saja. Teori penciptaan alam semestanya Big Bang yaitu dunia tercipta karena letusan besar itu cuma asumsi/hipotesa yg tidak ada pembuktian ilmiahnya. Ilmuwan lain pun banyak yg tidak setuju. Dunia kok terjadi dgn letusan besar mendadak seperti bom. Hasilnya kan bisa jadi cuma serpihan/kehancuran saja.

Iklan

5 Tanggapan

  1. buktinya kalo alam semesta ini berawal dari big bang ada dlm alquran bro. yg terjemahanya “dan kami pisahkan bumi dan langit yg dulunya satu menjadi terpisah dan kami jadikan kehidupan dari air” penciptaan alam semesa terbagi atas 6 masa. dan ini pernah di sabdakan nabi muhammad 1400th yg lalu tetapi muhammad malah dianggap gila. dan setelah dunia modern menemukan teleskop luar angkasa hubble tertemukanlah teori “big bang” pd tahun 1997

  2. Masalah bumi dan langit dulu satu kemudian jadi terpisah dan berkembang itu benar.
    Namun dalam Islam, hal itu semua dilakukan secara bertahap. Total penciptaan dalam 6 hari/masa secara teratur.
    Bukan seperti ledakan bom “Big Bang” sebagaimana yang diteorikan Hawkings.
    Lagi pula banyak ilmuwan yang meski meyakini alam semesta ini berkembang (expanding universe) yang tidak sependapat dgn Hawkings yang menyatakan berkembangnya dengan cara meledak tiba-tiba.

  3. Berbagai kekeliruan kacamata sudut pandang atheistic

    1.atheis keliru dalam mengkonsep ‘realitas’.

    Atheis berpandangan bahwa ‘realitas’ adalah segala suatu yang dunia panca indera bisa menangkapnya’,bila kita kaji secara ilmiah ini adalah konsep yang salah sebab definisi ‘realitas’ adalah : ‘segala suatu yang ada – nyata atau terjadi’ dimana realitas itu ada yang bisa tertangkap dunia indera dan ada yang tidak bisa tertangkap dunia indera,jadi realitas terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang gaib.
    Karena atheis beranggapan bahwa yang real adalah segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun selalu mereka kaitkan dengan segala suatu yang tertangkap dunia indera sehingga bagi atheis yang rasional = yang dunia indera bisa menangkapnya.ini berlawanan dengan konsep Tuhan,karena realitas itu terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang konkrit maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun harus dikaitkan dengan kedua dimensi realitas itu,sebab akal bukan hanya alat berfikir yang diciptakan untuk menela’ah serta menjelajah dunia konkrit semata tapi juga untuk menela’ah serta menjelajah dunia abstrak.sehingga dalam konsep Tuhan ‘yang rasional’= yang akal bisa memahaminya bukan yang mata bisa menangkapnya.
    Sebab itu karena definisi ‘realitas’ versi agama berbeda dengan definisi ‘realitas’ versi atheis maka definisi pengertian ‘rasional’ versi agama pun berbeda jauh dengan ‘rasional’ versi atheis.

    2.atheis keliru dalam membuat definisi pengertian ‘rasional’ sehingga definisi pengertiannya menjadi sesuatu yang seolah harus selalu terkait secara langsung dengan bukti mata telanjang, ’rasionalisme’ kaum atheis selalu dikaitkan dengan tangkapan mata langsung sehingga bagi atheis yang rasional selalu harus yang didahului oleh bukti mata telanjang sehingga deskripsi tentang yang abstrak sering divonis ‘irrasional’ hanya karena berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa tertangkap dunia indera.padahal definisi pengertian ‘rasional’ yang sebenarnya adalah ‘yang akal fikiran bisa memahaminya secara tertata’,dan definisi pengertian ‘rasional’ itu sama sekali tidak bergantung mutlak pada tangkapan dunia indera.sebab akal tidak bergantung secara mutlak pada dunia indera.
    Agama sering distigmakan sebagai ‘irrasional’ hanya karena mendeskripsikan hal yang gaib bagi mata manusia.padahal akal itu adalah alat berfikir untuk memahami rasionalitas dari segala suatu (keseluruhan) termasuk yang abstrak. sebagai contoh : konsep sorga – neraka tak bisa disebut irrasional hanya karena tak bisa tertangkap ditangkap mata,karena konsep sorga-neraka berhubungan secara sistematis dengan keberadaan kebaikan dan kejahatan didunia jadi adanya sorga neraka bisa difahami secara sistematis oleh cara berfikir logika akal.dan bayangkan bila didunia ada kebaikan dan kejahatan tapi tak ada konsep balasan diakhirat maka kehidupan akan menjadi ganjil dalam arti menjadi tidak sistematis.
    Dengan kata lain rasionalitas atheis hanya bisa berjalan didunia alam lahiriah -material tapi ketika berhadapan dengan dunia abstrak cara berfikir logika akal mereka menjadi macet-buntu itu karena ketergantungan secara mutlak pada tangkapan dunia indera,sehingga cara berfikir logika akalnya menjadi sempit.
    Filsuf-pemikir-saintis-ilmuwan yang atheistik sering menyebut serta membanggakan diri sebagai golongan yang berpandangan ‘rasional’ tetapi anggapan mereka itu sebenarnya harus diklarifikasi – harus dianalisis secara ilmiah sehingga kita bisa mengetahui secara lebih jelas betulkah mereka adalah golongan yang berpandangan rasional (?)
    Akal adalah alat berfikir agar manusia bisa berfikir secara sistematis-tertata (konstruktif) sehingga sesuatu bisa disebut sebagai ‘rasional’ apabila bisa dijelaskan oleh cara berfikir yang tertata secara sistematis,sebagai contoh : bila ada pertanyaan : mengapa sebuah gedung besar bisa berdiri tegak (?) maka bila kita memberi penjelasan bahwa didalam gedung itu ditanam konstruksi besi beton yang kokoh yang menopang gedung itu, maka itu adalah penjelasan yang rasional (penjelasan yang tertata-sistematis) walau kita tidak memperlihatkan konstruksi besi beton itu melalui tangkapan mata secara langsung.tapi bila kita katakan bahwa gedung itu bisa tegak karena faktor ‘kebetulan’ maka itu adalah penjelasan yang tidak tertata artinya penjelasan yang tidak rasional atau penjelasan yang bersandar pada pemikiran spekulatif,dan pemikiran spekulatif adalah bentuk pemikiran yang tidak tertata beda dengan pikiran yang rasional yang mengikuti jalan pikiran yang tertata.
    Atheisme bisa disebut sebagai irrasional karena sama dengan beranggapan bahwa segala bentuk keteraturan dan ketertataan alam semesta itu berasal dari ‘kebetulan’ .bandingkan dengan argument agama yang menyatakan bahwa yang serba teratur itu hanya bisa berasal dari adanya desainer.jadi atheis tidak bersandar pada prinsip bahwa pengertian ‘rasional’ adalah bentuk cara berfikir yang tertata-sistematis tapi bersandar pada anggapan bahwa sesuatu disebut ‘ rasional’ bila disertai oleh fakta yang tertangkap mata secara langsung.jadi beda jauh antara definisi pengertian ‘rasional’ versi agama yang murni cara berfikir akal yang sistematis dengan definisi pengertian ‘rasional’ versi atheis yang tidak murni cara berfikir akal yang sistematis sebab ketergantungan yang bersifat mutlak pada dunia panca indera.
    Atheis sering berargementasi mengatasnamakan ‘logika’ tapi mereka sering menolak argumentasi logis yang terang benderang bagi akal,sebagai contoh : bila argumentasi sistematis dari Wiliam paley tentang jam atau dari Thomas Aquinas tentang keharusan adanya Tuhan bagi akal masih saja tidak memuaskan dan ditolak lalu argumentasi rasional yang bagaimana lagi yang sebenarnya mereka (atheist) inginkan (?), jawabnya adalah : yang memuaskan bagi atheist selalu pada hal hal yang tertangkap mata telanjang.
    Dan terlalu banyak yang tidak rasional dalam pemikiran atheistik,misal : bila keserba teraturan ini berasal dari ‘kebetulan’ maka terlalu banyak kebetulan yang terjadi d ialam semesta ini yang rasio manusia pasti tak bisa menerima konsep seperti itu.rasio pasti akan lebih menerima bila argumentasi untuk keserba teraturan itu berasal dari desainer yang desainer ini karena maha tak terbatas tak bisa ditangkap oleh keserba terbatasan manusia sehingga Ia memperlihatkan eksistensinya didunia melalui utusanNya.(apa yang tidak rasional dari penjelasan demikian ketimbang menyandarkan segala suatu pada faktor ‘kebetulan’),dengan kata lain sebenarnya tak ada hubungan rasional sama sekali antara prinsip ‘kebetulan’ dengan rasionalisme,jadi bagaimana orang atheis bisa menyebut diri sebagai orang yang rasional (?)

    Jadi sebenarnya bukan agama yang ‘irrasional’ tapi atheis tak bisa membaca rasionalitas konsep Tuhan itu karena atheis selalu mengaitkan rasionalitas selalu dengan tangkapan dunia indera langsung,padahal dalam konsep agama rasionalitas berarti murni cara berfikir sistematis-tertata tanpa ketergantungan mutlak kepada bukti panca indera yang langsung.dengan kata lain dalam atheisme akal atau rasionalitas itu persis seperti kambing yang dikekang oleh tali yang tak boleh berjalan jauh tanpa disertai secara mutlak oleh perangkat dunia inderawi (inilah sebab mengapa rasio orang atheis sulit membaca konsep realitas abstrak).dan itulah kelemahan rasio orang atheis sedang kekuatan rasio orang beragama adalah akalnya bisa menangkap konsep konsep dari manapun datangnya apakah itu dari realitas yang nampak mata maupun realitas yang tak nampak mata,sebab ia memiliki ‘dua mata’ yang bisa melihat ke dua dimensi realitas yang berbeda,beda dengan atheis yang hanya memiliki ‘satu mata’.

    Berbagai kekeliruan kacamata sudut pandang atheistic

    1.atheis keliru dalam mengkonsep ‘realitas’.

    Atheis berpandangan bahwa ‘realitas’ adalah segala suatu yang dunia panca indera bisa menangkapnya’,bila kita kaji secara ilmiah ini adalah konsep yang salah sebab definisi ‘realitas’ adalah : ‘segala suatu yang ada – nyata atau terjadi’ dimana realitas itu ada yang bisa tertangkap dunia indera dan ada yang tidak bisa tertangkap dunia indera,jadi realitas terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang gaib.
    Karena atheis beranggapan bahwa yang real adalah segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun selalu mereka kaitkan dengan segala suatu yang tertangkap dunia indera sehingga bagi atheis yang rasional = yang dunia indera bisa menangkapnya.ini berlawanan dengan konsep Tuhan,karena realitas itu terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang konkrit maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun harus dikaitkan dengan kedua dimensi realitas itu,sebab akal bukan hanya alat berfikir yang diciptakan untuk menela’ah serta menjelajah dunia konkrit semata tapi juga untuk menela’ah serta menjelajah dunia abstrak.sehingga dalam konsep Tuhan ‘yang rasional’= yang akal bisa memahaminya bukan yang mata bisa menangkapnya.
    Sebab itu karena definisi ‘realitas’ versi agama berbeda dengan definisi ‘realitas’ versi atheis maka definisi pengertian ‘rasional’ versi agama pun berbeda jauh dengan ‘rasional’ versi atheis.

    2.atheis keliru dalam membuat definisi pengertian ‘rasional’ sehingga definisi pengertiannya menjadi sesuatu yang seolah harus selalu terkait secara langsung dengan bukti mata telanjang, ’rasionalisme’ kaum atheis selalu dikaitkan dengan tangkapan mata langsung sehingga bagi atheis yang rasional selalu harus yang didahului oleh bukti mata telanjang sehingga deskripsi tentang yang abstrak sering divonis ‘irrasional’ hanya karena berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa tertangkap dunia indera.padahal definisi pengertian ‘rasional’ yang sebenarnya adalah ‘yang akal fikiran bisa memahaminya secara tertata’,dan definisi pengertian ‘rasional’ itu sama sekali tidak bergantung mutlak pada tangkapan dunia indera.sebab akal tidak bergantung secara mutlak pada dunia indera.
    Agama sering distigmakan sebagai ‘irrasional’ hanya karena mendeskripsikan hal yang gaib bagi mata manusia.padahal akal itu adalah alat berfikir untuk memahami rasionalitas dari segala suatu (keseluruhan) termasuk yang abstrak. sebagai contoh : konsep sorga – neraka tak bisa disebut irrasional hanya karena tak bisa tertangkap ditangkap mata,karena konsep sorga-neraka berhubungan secara sistematis dengan keberadaan kebaikan dan kejahatan didunia jadi adanya sorga neraka bisa difahami secara sistematis oleh cara berfikir logika akal.dan bayangkan bila didunia ada kebaikan dan kejahatan tapi tak ada konsep balasan diakhirat maka kehidupan akan menjadi ganjil dalam arti menjadi tidak sistematis.
    Dengan kata lain rasionalitas atheis hanya bisa berjalan didunia alam lahiriah -material tapi ketika berhadapan dengan dunia abstrak cara berfikir logika akal mereka menjadi macet-buntu itu karena ketergantungan secara mutlak pada tangkapan dunia indera,sehingga cara berfikir logika akalnya menjadi sempit.
    Filsuf-pemikir-saintis-ilmuwan yang atheistik sering menyebut serta membanggakan diri sebagai golongan yang berpandangan ‘rasional’ tetapi anggapan mereka itu sebenarnya harus diklarifikasi – harus dianalisis secara ilmiah sehingga kita bisa mengetahui secara lebih jelas betulkah mereka adalah golongan yang berpandangan rasional (?)
    Akal adalah alat berfikir agar manusia bisa berfikir secara sistematis-tertata (konstruktif) sehingga sesuatu bisa disebut sebagai ‘rasional’ apabila bisa dijelaskan oleh cara berfikir yang tertata secara sistematis,sebagai contoh : bila ada pertanyaan : mengapa sebuah gedung besar bisa berdiri tegak (?) maka bila kita memberi penjelasan bahwa didalam gedung itu ditanam konstruksi besi beton yang kokoh yang menopang gedung itu, maka itu adalah penjelasan yang rasional (penjelasan yang tertata-sistematis) walau kita tidak memperlihatkan konstruksi besi beton itu melalui tangkapan mata secara langsung.tapi bila kita katakan bahwa gedung itu bisa tegak karena faktor ‘kebetulan’ maka itu adalah penjelasan yang tidak tertata artinya penjelasan yang tidak rasional atau penjelasan yang bersandar pada pemikiran spekulatif,dan pemikiran spekulatif adalah bentuk pemikiran yang tidak tertata beda dengan pikiran yang rasional yang mengikuti jalan pikiran yang tertata.
    Atheisme bisa disebut sebagai irrasional karena sama dengan beranggapan bahwa segala bentuk keteraturan dan ketertataan alam semesta itu berasal dari ‘kebetulan’ .bandingkan dengan argument agama yang menyatakan bahwa yang serba teratur itu hanya bisa berasal dari adanya desainer.jadi atheis tidak bersandar pada prinsip bahwa pengertian ‘rasional’ adalah bentuk cara berfikir yang tertata-sistematis tapi bersandar pada anggapan bahwa sesuatu disebut ‘ rasional’ bila disertai oleh fakta yang tertangkap mata secara langsung.jadi beda jauh antara definisi pengertian ‘rasional’ versi agama yang murni cara berfikir akal yang sistematis dengan definisi pengertian ‘rasional’ versi atheis yang tidak murni cara berfikir akal yang sistematis sebab ketergantungan yang bersifat mutlak pada dunia panca indera.
    Atheis sering berargementasi mengatasnamakan ‘logika’ tapi mereka sering menolak argumentasi logis yang terang benderang bagi akal,sebagai contoh : bila argumentasi sistematis dari Wiliam paley tentang jam atau dari Thomas Aquinas tentang keharusan adanya Tuhan bagi akal masih saja tidak memuaskan dan ditolak lalu argumentasi rasional yang bagaimana lagi yang sebenarnya mereka (atheist) inginkan (?), jawabnya adalah : yang memuaskan bagi atheist selalu pada hal hal yang tertangkap mata telanjang.
    Dan terlalu banyak yang tidak rasional dalam pemikiran atheistik,misal : bila keserba teraturan ini berasal dari ‘kebetulan’ maka terlalu banyak kebetulan yang terjadi d ialam semesta ini yang rasio manusia pasti tak bisa menerima konsep seperti itu.rasio pasti akan lebih menerima bila argumentasi untuk keserba teraturan itu berasal dari desainer yang desainer ini karena maha tak terbatas tak bisa ditangkap oleh keserba terbatasan manusia sehingga Ia memperlihatkan eksistensinya didunia melalui utusanNya.(apa yang tidak rasional dari penjelasan demikian ketimbang menyandarkan segala suatu pada faktor ‘kebetulan’),dengan kata lain sebenarnya tak ada hubungan rasional sama sekali antara prinsip ‘kebetulan’ dengan rasionalisme,jadi bagaimana orang atheis bisa menyebut diri sebagai orang yang rasional (?)

    Jadi sebenarnya bukan agama yang ‘irrasional’ tapi atheis tak bisa membaca rasionalitas konsep Tuhan itu karena atheis selalu mengaitkan rasionalitas selalu dengan tangkapan dunia indera langsung,padahal dalam konsep agama rasionalitas berarti murni cara berfikir sistematis-tertata tanpa ketergantungan mutlak kepada bukti panca indera yang langsung.dengan kata lain dalam atheisme akal atau rasionalitas itu persis seperti kambing yang dikekang oleh tali yang tak boleh berjalan jauh tanpa disertai secara mutlak oleh perangkat dunia inderawi (inilah sebab mengapa rasio orang atheis sulit membaca konsep realitas abstrak).dan itulah kelemahan rasio orang atheis sedang kekuatan rasio orang beragama adalah akalnya bisa menangkap konsep konsep dari manapun datangnya apakah itu dari realitas yang nampak mata maupun realitas yang tak nampak mata,sebab ia memiliki ‘dua mata’ yang bisa melihat ke dua dimensi realitas yang berbeda,beda dengan atheis yang hanya memiliki ‘satu mata’.

  4. Tulisan&komentar bagus, ateis sangat berbahaya. awasi anak2 dalam bermain internet, mereka eksis didunia maya (di Indonesia). AWASI anak2 kita saudara2 kita yang belum siap untuk berdebat, bahkan lebih baik untuk tidak berdebat dengan mereka, mubazir, mata hatinya tertutup bahkan mungkin sdh mati, masalah2 yg terjadi di dunia ini akan langsung dihubungan dengan agama, dunia sains dianggapnya dominasi kaum ateis,biarlah mereka hidup dengan logika mereka, sampai satu saat dia berharap kepada sesuatu yang mereka bantah habis-habisan selama ini. jaga diri, anak dan saudara kita dari orang sombong itu, terutama bagi mereka yang ateis militan, ateis modal sakit hati, luka dalam yang tersembunyi. Jaga diri kita my brother.!!

  5. Kalau memang Stephen Hawking itu “the best”, terus kenapa Stephen Hawking gak bisa bikin formula untuk memperbaiki “disability”-nya sendiri? :v Orang sudah disabled gitu saja masih sombong, apalagi kalau sehat bugar bisa-bisa dia bikin teori “semua manusia harus di-jadikan robot kecuali saya, supaya manusia men-Tuhan-kan saya” :v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: