Iklan

Haram Belajar Hermeneutika untuk Memahami Al Qur’an/Islam!


Di milis Syiar Islam ada yang bertanya: “Bolehkah belajar Hermeneutika untuk memahami Al Qur’an?”

Jawaban singkatnya: Tidak Boleh!

Mengapa?

Karena penemu mau pun tokoh2 Hermeneutika itu orang2 kafir. Jika penemu dan tokoh2nya saja gagal menemukan Islam/memahami Al Qur’an, bagaimana nasib para pengikut/kroco-kroconya?

Dalam Islam kita harus belajar pada ahlinya. Misalkan kita ingin membuat pesawat. Belajarlah pada ahli membuat pesawat. Bukan kepada tukang bakso. Nanti malah kacau. Belajar Islam, ya harus belajar pada orang Islam. Bukan belajar Islam kepada orang kafir atau memakai metode orang kafir. Itu tindakan yang keliru.
Dalam memahami Al Qur’an, kita harus belajar pada ulama.Untuk memahami satu ayat Al Qur’an, kita harus membaca juga ayat2 Al Qur’an lain yang berhubungan. Kemudian baca juga hadits2 sahih yang berkaitan tentang ayat tsb serta Asbabun Nuzulnya (Sebab2 turun Al Qur’an). Simak juga pendapat para ulama yang pemahaman Al Qur’an dan Haditsnya luas dan mendalam.

Jadi kalau belajar pada orang kafir atau cara2 yang dipakai orang kafir untuk memahami Islam/Al Qur’an, itu salah besar.

Keliru mencari kebenaran Islam/Al Qur’an dengan memakai metode orang-orang yang gagal menemukan kebenaran Islam/Al Qur’an. Itu logika yang sederhana sekali!

Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Narsani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” [Al Baqarah 120]

Dalam surat Al Fatihah kita senantiasa membaca:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang2 yang telah kau beri nikmat.
Bukan jalan orang yang kau murkai (Yahudi)
Dan bukan jalan orang yang sesat (Nasrani)”

Jangan mengikuti kaum Yahudi dan Nasrani. Apalagi dalam hal agama. Ikutilah sunnah Nabi Muhammad SAW!

Waktu dan kemampuan kita sangat terbatas. Gunakan untuk belajar ilmu yang bermanfaat. Bukan ilmu yang tak ada manfaatnya.

Silahkan lihat tentang Hermeneutika:
Mathius Flacius (seorang Lutheran) adalah orang pertama yang merumuskan hermeneutika kitab suci sebagai rangkaian reformasi dan dalam pihak oposisinya terhadap dogmatika Gereja Tridentin yang menekankan terhadap interpretasi literal terhadap kitab suci. Flacius mendesak sebuah kemungkinan interpretasi yang secara universal valid dan benar melalui pendekatan hermeneutika.

Pengertian Hermeneutika

Hermeneutika berasal dari kata hermeneuein (menafsirkan) dan kata hermeneunia (penafsiran). Kata ini selalu diasosiasikan dengan dewa Hermes yang bertugas menyampaikan pesan-pesan dari dewa Olympus ke dalam bahasa yang dapat dimengerti manusia. Maka sejak saat itu Hermes menjadi simbol seorang duta yang dibebani oleh sebuah misi tertentu; yang pada akhirnya hermeneutika diartikan sengan “proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti”.

Dan dalam versi lain Hermes berasal dari bahasa latin sermo, yang berarti to say (mengatakan), dan bahasa latin lainnya verbum (word/kata). Ini mengasumsikan bahwa utusan di dalam memberitakan kata adalah mengumumkan dan menyatakan sesuatu, fungsinya tidak hanya untuk menjelaskan tetapi juga untuk menyatakan.

Ada tiga bentuk makna dasar dari kata hermeneuein dan hermeneuia, yaitu:

a.    Mengungkapkan kata-kata, misalnya to say.

b.    Menjelaskan, seperti menjelaskan situasi.

c.    Menterjemahkan, seperti transliterasi dari bahasa lain.

Dengan demikian, interpretasi berarti atau mengacu pada tiga persoalan yang berbeda: pengucapan lisan, penjelasan yang masuk akal, dan transliterasi dari bahasa asing. Hanya saja seseorang bisa mencatat bahwa secara prinsip “proses Hermes” sedang berfungsi dalam ketiga persoalan itu, sesuatu yang asing, ganjil, waktu yang berbeda, tempat atau pengalaman yang nyata, hadir, komprehensif; sesuatu yang membutuhkan representasi, eksplanasi atau transliterasi yang bagaimana pun juga mengarah pada pemahaman diinterpretasi. Oleh karenanya, tugas interpretasi harus membuat sesuatu yang kabur jauh, dan gelap maknanya menjadi sesuatu yang jelas, dekat, dan dapat dipahami.

Tokoh2 Hermeneutika yang gagal menemukan Islam:

Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834)

Schleiermacher (adalah seorang raksasa intelektual pada zamannya. Kendati tidak pernah menulis suatu traktat yang sistematik tentang hermeneutik dan hanya meninggalkan beberapa catatan kecil kompedium kuliah, Schleiermacher telah meletakkan dasar hermenautika modern. Rekonsepsinya tentang hermeneutika, yang terbit dari refleksinya sebagai ahli eksegetika dan filologi, dipengaruhi oleh Plato, dan dinalar dalam konteks sistem idealisme Schelling, Fichte, dan Hegel.

Wilhelm Dilthey

W. Dilthey (1833-1911) Dilthey, berpendapat bahwa definisi-definisi filsafat adalah dokumen sejarah yang dapat memberikan informasi tentang situasi kejiwaan suatu zaman. Tujuan seluruh pemikiran Dilthey tentang hermeneutika adalah mengembangkan metode menganalisis ekspresi kehidupan batin “yang secara objektif sah”. Titik tolak dan titik akhirnya adalah pengalaman konkret.

===Belajar Islam sesuai Al Qur’an dan Hadits

http://media-islam.or.id

Milis Ekonomi Nasional: ekonomi-nasional-subscribe@yahoogroups.com

Haji ONH Plus 2010 Mulai dari US$ 6.500:

http://media-islam.or.id/2010/05/09/paket-haji-onh-plus-2010-mulai-dari-us-6-000/

Iklan

5 Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum…

    Ijin copas ya Ust, jazakallah, wassalam

  2. penemunya adalah kafir. Lantas apakah menggunakan setiap produk-produk buatan-non muslim juga tidak boleh semisal sabun, odol, shampo buatan unilever ato baju koko produk china misalnya. rasanya produk material tidak beda jauh dengan produk-produk pemikiran. asal punya nilai kemanfaatan, tetap mampu memposisikan diri dengan mengkritik yang tidak sesuai dan mengambil yang baik didalamnya kenapa tidak… kiranya perlu dibedakan antara Ilmu-ilmu Agama, pemikiran keagamaan, dan dirasah islamiyyah.. al-Qur’an memang petunjuk absolut dalam berkehidupan.. namun pemahamannya tidak absolut karena sejarah berbicara bahwa pada kenyataannya muncul tafsir-tafsir dengan kecenderungan dan kepentingan tertentu semisal tafsir ilmi, fiqhi, sufi, falsafi dan sebagainya yang banyak terpengaruh dengan tradisi Yunani ato Yahudi sekalipun.. Tafsir mengenal Israiliyyat dan tidak serta merta menolaknya.. artinya tidak ada yang mampu menunjukkan dirinya paling benar.. kenapa saling mendiskreditkan…

  3. Mas Nazhroul,
    Ini cuma masalah logika sederhana dan akal sehat.
    Jika kita mau berpikir, maka mencari kebenaran islam/memahami Al Qur’an lewat Hermeneutika itu menyesatkan.
    Buktinya penemu dan tokoh2 Hermeneutika mati dalam kekafiran bukan?
    Kalau kita mau sedikit berpikir, maka jelas sekali orang yang mau memahami Al Qur’an dengan memakai cara orang2 kafir itu salah besar. Ikutilah sunnah Nabi.
    Sabun, Odol, atau baju Koko itu masalah dunia yg selama tidak melanggar aturan Islam masih dibolehkan meski ada produk Muslim yg lebih bagus.
    Tapi memahami Islam/Al Qur’an itu masalah agama. Lewat Hermeneutika?
    Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang2 yang telah kau beri nikmat.
    Bukan jalan orang yang kau murkai (Yahudi)
    Dan bukan jalan orang yang sesat (Nasrani)

  4. santai pak.. qt diskusi santai lagipula sy insyaallah muslim hehe… berkaitan dengan komentar diatas, pada dasarnya sy juga setuju bahwa dalam memahami al-Qur’an memang perlu menggunakan sunnah nabi tentunya melalui peristiwa yang direkam dalam kitab-kitab hadis misalnya, tapi rasanya perlu diingat juga bahwa nabi hanya hidup kurang lebih 23 tahun.. sementara beliau meninggalkan al-Qur’an yang berlaku sepanjang masa… rasanya agak sulit memahami dan menguak spirit al-Qur’an untuk diaplikasikan pada masa sekarang juga nanti dan seterusnya jika hanya disandarkan pada peranan nabi pada masanya. rasanya juga diperlukan upaya pemahaman dan penafsiran al-Qur’an secara terus menerus sehingga mampu menghadapi tantangan zaman. hermeneutika barangkali memang lahir dari dan berkaitan erat dengan tradisi penafsiran Bible… namun sejauh saya pembacaan sy… dalam bentuknya sebagai metode (bukan produk) ia memiliki fungsi yang kurang lebih sama dengan metode-metode penafsiran Islam pada umumnya… kesimpulan sementara sy… hermeneutika perlu dikaji secara lebih arif dan mendalam begitu juga peranannya dalam kajian keagamaan. jika ia memiliki signifikansi yang baik bahkan mungkin membuka cakrawala berfikir untuk mengembangkan pemahaman Islam… rasanya perlu diapresiasi…

    • kalau mau belajar tafsir alquran dan hadist , maka carilah gurunya , jangan belajar sendiri lewat suatu metode nanti malah tersesat bisa bisa anda nanti menemukan kesesatan arti atau tafsir lho , nasihat saya perbanyaklah mengaji dan diskusi dengan guru / ulama itu kuncinya .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: