Iklan

Mencari Harta: Lillahi Ta’ala atau Karunisme dan Bermegah-megahan?


Dari Umar bin Khottob rarodiyallohu’anhu dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh SAW bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung pada niat. Setiap orang akan dapat sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrah untuk mendapatkan dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).” [Bukhari-Muslim]

Seorang teman, Eko BS, menulis bahwa saat ini ada dua sisi ekstrim.:

 

Pada satu titik extreme adalah di mana seseorang memilih untuk melakukan pengorbanan 100%. Dia memilih meninggalkan mimpi pribadinya, dia meninggalkan kehidupan yg nyaman dan menyerahkan diri untuk menemani mereka yang membutuhkan dia. Di antara mereka, misalnya ada yang memilih menjadi dai, menjalankan tugas ke daerah-daerah terpencil, pedalaman, terbelakang untuk menyegarkan masyarakat dengan cinta-cinta Ilahi.

Pada satu titik extreme adalah di mana seseorang bekerja keras, berusaha sekuat tenaga meraih pencapaian demi pencapaian di pusat-pusat peradaban modern, berdiri tegak dengan karirnya di perusahaan-perusahaan kelas dunia. Mereka mencapai apa yang diinginkannya : finansial, jaringan dan kekuasaan. Di antara mereka ada yang berhasil mencapai Chief Executive Officer di perusahaan kelas dunia !

 

Seorang teman lain, akh Syauqie menulis:

 

Saya ingat sekali, dulu dia pernah “terjebak” dalam paradigma “anti dunia” alias tidak mau ngoyo mengejar dunia. Para tetangga sampai prihatin ama kondisi istri dan anaknya yang -maaf-seperti kurang gizi.

 

Di satu sisi ada orang yang ”Anti Dunia”, di sisi lain ada pula yang Hubbud Dunia (Cinta Dunia) sehingga melupakan ummat Islam lain yang kelaparan.

Pada akhirnya semua itu tergantung pada niat atau tujuan. Apakah niat kita untuk Allah ta’ala, atau sekedar jadi kaya agar keluarga tidak terlantar?

Banyak dalil atau versi yang dapat digali atau dijadikan hujjah. Namun hendaknya kita bisa menimbang dan menyusun berbagai dalil tersebut sehingga terbentuk susunan/puzzle yang benar.

Ada yang mengatakan bahwa orang yang memberi nafkah seorang yang kerjanya hanya ibadah saja itu lebih baik. Ini memang ada haditsnya. Seorang aktivis dakwah tidak bisa hanya berdakwah tanpa berusaha berbisnis / usaha untuk mencari nafkah. Jika tidak, dia akan jadi beban bagi masyarakat.

Di sisi lain juga banyak orang yang katanya mujahid atau aktivis dakwah getol mencari uang untuk memakmurkan keluarganya sehingga akhirnya takut kehilangan jabatan dan hilang kepeduliannya kepada ummat.

Ada pendapat umum bahwa orang yang ”baik” itu harus terjun ke politik. Sebab jika tidak, maka orang yang ”buruklah” yang akan meramaikannya sehingga korupsi, kolusi, dan nepotisme merajalela.

Itu benar. Namun sekali lagi kita harus tahu bahwa baik itu sifat. Bisa berubah-ubah seperti iman. Kata Nabi, iman itu kadang naik dan kadang turun. Seorang yang beriman bisa saja berzina. Pada saat itu imannya hilang. Dia juga bisa mencuri atau korupsi. Pada saat dia melakukan itu imannya kosong. Jadi kita benar-benar harus meluruskan nawaitu kita. Tidak jarang orang yang ingin ”membersihkan” akhirnya berubah sama kotornya dengan orang yang ingin dia ”bersihkan.”

Sebagai contoh, banyak ummat Islam yang terjun ke politik untuk ”membersihkan” dunia politik Indonesia. Tapi alih-alih jadi bersih, meski presiden, wapres, pejabat, dan anggota DPR dipegang ummat Islam, korupsi dan pemborosan makin merajalela. Rakyat makin banyak yang kurang gizi atau busung lapar bahkan banyak yang mati.

Kita hitung parpol yang mayoritasnya Muslim ada PKB (12% dari total suara), PPP (9%), PKS (7%), PAN (7%), PBB (2%), PBR (1%). Total ada 44% atau hampir separuh kursi. Bahkan di partai yang betul-betul sekuler seperti Golkar dan PDIP pun banyak Muslimnya. Tapi kenapa kehidupan rakyat kita semakin menderita?

Ini karena niat sebagian besar dari mereka jadi pejabat untuk jadi kaya. Bukan memperkaya ummat. Sehingga mereka diam saja melihat kemungkaran. Mereka tutup mata melilhat pemborosan. Mereka tidak berani bersuara ketika banyak rakyat busung lapar karena khawatir dicopot.

Sebagian juga ada yang begitu dapat uang dari perusahaan asing langsung ”berjihad” membela kepentingan perusahaan asing tersebut. Seorang anggota DPD yang gigih memperjuangkan agar blok MIGAS Cepu dikelola bangsa Indonesia sehingga hasilnya bisa dinikmati bangsa Indonesia cerita bahwa ada 2 ”Ikhwan” yang menemuinya agar menghentikan suaranya menolak perusahaan asing yang mengelola blok Cepu tersebut. Para ”Ikhwan” ini karena dapat uang akhirnya membela kepentingan perusahaan asing yang kafir ketimbang memakmurkan rakyat Indonesia.

Ada lagi pejabat dari partai Islam yang mengeluh kalau gajinya yang 20 juta per bulan itu kurang. Padahal gaji itu sudah lebih dari 128 kali angka penghasilan rakyat miskin di Indonesia. Alasannya dia tidak bisa ”optimal” bekerja meski anggaran Departemennya trilyunan rupiah.

Niat kaya yang tidak lillahi ta’ala ini akhirnya membuat banyak pejabat Muslim kehilangan kepedulian pada rakyat.

Contoh lain saya pernah menemani pak Budiman, pendiri Ar Rahman TV ke seorang tokoh Islam yang katanya ”Mujahid” untuk mendapatkan izin siaran dan frekuensi karena dia kenal dengan pejabat yang memiliki wewenang untuk itu. Sebetulnya izin itu sekedar tanda tangan di atas secarik kertas saja. Kalau pun ada biaya administrasinya paling di bawah rp 10 juta. Namun ”Mujahid” ini begitu ketemu langsung bertanya, ”Apa dealnya?” Dia seolah-olah menganggap itu sebagai peluang untuk mendapat uang. Bukan peluang untuk menjayakan Islam.

Kemudian ujung-ujungnya keluar angka Rp 19 milyar yang harus keluar untuk izin tahun pertama dan Rp 12 milyar untuk tahun berikutnya. Tak heran jika pejabat yang memegang wewenang itu sanggup mengadakan pesta pernikahan Rp 2 milyar lebih untuk anaknya sementara TV Islam pertama di Indonesia, Ar Rahman Channel, akhirnya bangkrut karena tidak bisa siaran secara terrestrial (hanya bisa lewat parabola saja) sehingga penonton dan iklannya pun sedikit.

Itu contoh niat kaya yang akhirnya tidak membawa sumbangsih untuk Islam.

Begitu banyak tokoh pemuda yang berjuang membela rakyat dengan resiko kena peluru akhirnya ketika jadi pejabat lupa kepada rakyat. Entah itu tokoh pemuda ORBA, atau pun tokoh pemuda Reformasi sekarang ini.

Begitu jadi pejabat mereka lebih sibuk memperkaya diri dan keluarganya. Mereka tidak bersuara lagi ketika rakyat justru lebih menderita. Mereka takut kehilangan jabatan.

Islam atau rakyat hanya dijadikan barang dagangan agar mereka bisa jadi ”Tokoh Islam” atau ”Tokoh Pembela Rakyat”. Begitu mereka besar dan dapat jabatan dan kekayaan dari ketokohannya, mereka lupa karena memang niat awalnya hanya untuk memperkaya diri. Bukan mensejahterakan rakyat.

Memang Islam menyuruh ummat untuk mencari rezeki agar mereka kuat:

”Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” [Al Jumu’ah:10]

Hanya saja, sesuai sunnah Nabi kita, kekayaan yang mereka dapat itu sebagian besar diinfakkan kembali untuk ummat Islam. Bukan untuk keluarganya.

Sering Nabi bersedekah sehingga justru uangnya tidak tersisa sama sekali sehingga Allah menegur agar tidak terlalu pemurah sehingga menyedekahkan semua harta yang ada tanpa sisa:

” Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” [Al Israa’:29]

Para sahabat Nabi seperti Usman, Umar, dan Abu Bakar adalah orang kaya, tapi mereka menginfakkan sepertiga, separuh, bahkan seluruh harta untuk Islam. Nah sepertinya semangat sedekah/memberi inilah yang kelihatannya kurang pada mayoritas ummat Islam mau pun motivator Islami. Yang ada cuma kayaaaa saja.

Sebaliknya miskin karena kepepet, meski sebagian sahabat ada yang seperti itu, namun itu bukan yang dilakukan Nabi. Nabi itu jika mau kaya gampang. Tahan saja seperlima dari harta yang dia dapat, niscaya Nabi akan sangat kaya karena kerajaan Romawi dan Persia itu sudah hampir berada di genggamannya.

Nabi ketika ditawari jabatan, kekayaan, dan wanita agar menghentikan dakwah Islam menjawab, ”Seandainya matahari ditaruh di tangan kiriku dan rembulan di tangan kananku, niscaya tidak akan merubah pendirianku untuk menyebarkan Islam.”

Ini beda kan dengan sebagian besar tokoh Islam yang takut jabatan dan kekayaannya lepas sehingga diam melihat kemungkaran seperti korupsi, pemborosan, dan ketidak-adilan. Bahkan sebagian ada yang jadi agen asing yang membela perusahaan-perusahaan asing sehingga puluhan juta hektar hutan, perkebunan, dan pertambangan dikuasai oleh perusahaan asing sementara rakyat banyak justru tidak kebagian. Banyak yang jadi Abdul Kafiruun atau Budak Harta.

Umumnya ummat Islam keinginan kayanya masih berpaham ”Karunisme” atau orang yang bermegah-megahan seperti surat At Takatsuur. Bukan seperti Nabi. Orang kaya yang dermawan jarang… kata seorang ustad.

Ketika jadi Nabi dan Penguasa Jazirah Arab pun Nabi Muhammad menyumbangkan sebagian besar hartanya sehingga tidak pernah keluarga beliau kenyang 3 hari berturut-turut seperti dituturkan ’Aisyah istri Nabi. Bahkan pernah Nabi mengganjal perutnya dengan batu karena lapar. Umar bahkan menangis terharu melihat punggung Nabi yang berbekas akibat tidur di atas pelepah kurma.

Ibaratnya Nabi Muhammad itu kalau mau dapat Rp 100 milyar bisa. Tapi beliau infakkan yang Rp 99 milyar dan menyisakan hanya Rp 1 milyar untuk rumah dan kendaraan keluarganya. Ini tentu jauh beda dengan orang yang hartanya misalnya Rp 50 trilyun, tapi paling banter hanya menyumbang 0,1% saja atau bahkan tidak sama sekali. Bahkan dalam berusaha sering merugikan orang dan negara trilyunan rupiah. Ini juga beda dengan orang sederhana karena kepepet yang memang hartanya cuma Rp 50 juta dan menyumbang hanya Rp 500 ribu.

Sebaliknya saya menerima SMS dari seorang teman bahwa seorang tokoh yang sederhana yang meski jadi anggota DPR tapi tetap gelayutan di bis disidang oleh oknum petinggi partai Islam karena memprotes elit partai yang hidup mewah sementara para kadernya hidup dalam kemiskinan.

Bagaimana para elit partai tersebut bisa mensejahterakan rakyat kalau mereka sendiri enggan mensejahterakan kadernya?

Ketika saya konfirmasi dengan seorang teman yang bernama Eko W, teman yang pengusaha ini berkata, itu memang benar ”H” yang menyidangnya katanya. Dan saya kalau bisnis malas kalau lewat parpol, apalagi parpol Islam. Pejabat Parpol Islam lebih parah lagi. Cuma jadi makelar saja belum apa-apa sudah minta komisi 20% katanya sementara pejabat parpol yang biasa malah cuma 5%.

Pejabat tersebut sebenarnya bisa memberdayakan ummat Islam dengan membantu pengusaha Muslim (tentu dengan menerapkan profesionalitas). Tanpa diminta imbalan pun, orang bisa berterimakasih. Cuma itu tidak dilakukan. Yang diminta adalah komisi dan komisi.

Itulah niat kaya tanpa dilandasi niat lillahi ta’ala. Orang baik atau tokoh Islam pun bisa terjerumus karena iman kita selalu naik turun. Kita harus terus introspeksi agar tetap bisa istiqomah.

Saat ini rakyat sengaja dimiskinkan secara struktural sehingga banyak rakyat yang tewas karena kelaparan (baca: www.infoindonesia.wordpress.com ). Ini karena Negara sering menggusur rakyat tanpa ganti rugi yang sepadan. Sering pasar ”kebakaran” (atau dibakar?) ketika akan direnovasi sehingga modal para pedagang habis terbakar. Begitu pasar baru jadi seperti di pasar Tanah Abang, para pedagang lama yang umumnya Muslim (seperti pedagang Arab, Padang, dan Bugis) tergeser karena modal mereka habis terbakar dan diganti oleh pedagang non Muslim.

Puluhan juta hektar hutan, perkebunan, dan pertambangan yang harusnya bisa digunakan rakyat untuk mencari uang diserahkan ke berbagai perusahaan asing. Para pengusaha dengan sistem Kapitalis Neo Liberalisme dibiarkan menguasai 100% usaha sementara BUMN diprivatisasi dijual ke segelintir pemilik modal. Akibatnya sebagai contoh, 100% perkebunan kelapa sawit dikuasai oleh segelintir pengusaha terkaya di Indonesia. Begitu harga minyak kelapa melonjak dari Rp 6.000/kg jadi Rp 16.000/kg pemerintah tak bisa apa-apa karena perkebunan itu 100% dikuasai oleh para pengusaha dan para pengusaha yang menaikan harga minyak itu adalah penyumbang dana kampanye para politikus kita.

Boleh dikata para pejabat yang mayoritas Muslim hanya bisa berdiam diri melihat rakyat kelaparan dan ketidak-adilan ini karena mereka sudah kenapa penyakit Hubbud dunia. Kenapa Indonesia yang pejabatnya mayoritas Muslim ini sering menempati ranking 5 besar dalam hal korupsi? Karena cinta harta.

Dari Tsaubah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang: Apakah karena jumlah kami sedikit waktu itu? Beliau bersabda: Bahkan kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Alloh mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah wahn itu? Beliau bersabda: Mencintai dunia dan takut mati”. (Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad V/278. Abu Na’im dalam Al-Hilyah)

Ahmad Sofyan seorang teman menulis satu doa, ”Ya Allah…letakkanlah dunia di tangan kami. Jangan di hati kami”

Bagaimana pun juga kita mencari rezeki, maka biarlah kekayaan itu diletakkan di tangan kita hingga sebagian bisa kita infakkan untuk Islam. Jangan sampai kita mencintai kekayaan sehingga jadi malas sedekah dan tega menempuh jalan yang haram dengan menjadi agen asing, Abdul Kafiruun, dan Budak Harta.

Semoga kita semua diberi kesabaran oleh Allah SWT untuk selalu istiqomah di jalan Allah.

Iklan

3 Tanggapan

  1. Aww

    Tanpa mengurangi hormat ane ke ketua, kiranya mohon klarifikasi ini
    pernyataannya ada di paragraf mana ya :((

    http://ekobs.multiply.com/journal/item/51/Dimana_kiprah_dunia-ukhrawi_kita_

    Pertama : tulisan ane tidak sama sekali ditujukan melakukan
    “kontroversi” antara pro-dunia dan anti-dunia.
    Kedua : ane sama sekali tidak pernah menulis ttg “keluarganya agak terlantar”.

    > Di satu sisi ada orang yang “Anti Dunia”, di sisi lain
    > ada pula yang Hubbud Dunia (Cinta Dunia) sehingga
    > melupakan ummat Islam lain yang kelaparan.

    Bentar-bentar … sebagaimana telah ane posting … tulisan ane TIDAK
    BERMAKSUD mempertentangkan dunia – akhirat loh :D
    coba recheck kembali tulisan sampai akhir,
    agar antum bisa tahu “APA MASALAH ANE” — “APA YG ANE PERLU BANTUAN BANGET”.

    > Sebagai contoh, banyak ummat Islam yang terjun ke
    > politik untuk “membersihkan” dunia politik Indonesia.
    > Tapi alih-alih jadi bersih, meski presiden, wapres,
    > pejabat, dan anggota DPR dipegang ummat Islam, korupsi
    > dan pemborosan makin merajalela. Rakyat makin banyak
    > yang kurang gizi atau busung lapar bahkan banyak yang
    > mati.

    Seseorang hanya akan ditanya pada : Apa yg sudah kamu perjuangkan.
    Setahu ane hasil akhir itu kembali kepada Alloh swt.

    > Kita hitung parpol yang mayoritasnya Muslim ada PKB
    > (12% dari total suara), PPP (9%), PKS (7%), PAN (7%),
    > PBB (2%), PBR (1%). Total ada 44% atau hampir separuh
    > kursi. Bahkan di partai yang betul-betul sekuler
    > seperti Golkar dan PDIP pun banyak Muslimnya. Tapi
    > kenapa kehidupan rakyat kita semakin menderita?
    >
    > Ini karena niat sebagian besar dari mereka jadi
    > pejabat untuk jadi kaya. Bukan memperkaya ummat.

    Dengan segala kerendahan hati … please dech … “sebagian besar” itu
    berapa dan siapa saja ? Saya bukan pro-politik atau kontra-politik.
    Politik itu suatu urusan duniawi, seperti juga uang dan harta …
    perlu keseimbangan dalam berpikir.

    Banyak koruptor di bidang ekonomi/bisnis juga … tetapi kita toh
    mendorong orang berbisnis kan ? Islam adalah keseimbangan.

    > Sehingga mereka diam saja melihat kemungkaran. Mereka
    > tutup mata melilhat pemborosan. Mereka tidak berani
    > bersuara ketika banyak rakyat busung lapar karena
    > khawatir dicopot.

    Hati-hati akh.
    Saya TRUST bahwa ADA yg baik …

    > Sebagian juga ada yang begitu dapat uang dari
    > perusahaan asing langsung “berjihad” membela
    > kepentingan perusahaan asing tersebut. Seorang anggota
    > DPD yang gigih memperjuangkan agar blok MIGAS Cepu
    > dikelola bangsa Indonesia sehingga hasilnya bisa
    > dinikmati bangsa Indonesia cerita bahwa ada 2 “Ikhwan”
    > yang menemuinya agar menghentikan suaranya menolak
    > perusahaan asing yang mengelola blok Cepu tersebut.
    > Para “Ikhwan” ini karena dapat uang akhirnya membela
    > kepentingan perusahaan asing yang kafir ketimbang
    > memakmurkan rakyat Indonesia.

    Hati-hati …
    Ummat islam sudah cukup dipecah belah oleh agen-agen asing. Membuat
    kita tidak percaya satu sama lain. Ada persaingan antar harakah. Ada
    salafy yg senantiasa menjatuhkan tarbiyah. Ada di antara kita yg
    tarbiyah yg seringkali lalai akan tugas dakwah dan kadang terjebak
    kepada permainan bola politik jangka pendek.

    Mari kita : BEKERJA SAMA DALAM HAL DISEPAKATI. DAN MENGHORMATI DALAM
    HAL BERBEDA PENDAPAT.

    > Ada lagi pejabat dari partai Islam yang mengeluh kalau
    > gajinya yang 20 juta per bulan itu kurang. Padahal
    > gaji itu sudah lebih dari 128 kali angka penghasilan
    > rakyat miskin di Indonesia. Alasannya dia tidak bisa
    > “optimal” bekerja meski anggaran Departemennya
    > trilyunan rupiah.

    Ini juga hati-hati karena melakukan generalisir secara berlebihan …
    Dan menurut ane, krn tanggung jawab antum ada di lingkungan Muslim IT
    Association,
    sebelum memberi evaluasi dan penilaian ke organisasi lain/partai politik lain
    antum coba evaluasi kemampuan internal organisasi kita dulu :D

    Saat dulu ane mendapat tanggung jawab di MIFTA, satu hal yg paling ane
    BENCI adalah kritik dari orang luar yg tidak terlibat dalam kegiatan
    kita …
    Saya ingat diskusi bareng mas bayu, bagaimana kita menemukan
    orang-orang yg hanya MENUNTUT agar MIFTA begini-begitu. Memberikan ide
    kegiatan ini dan itu. Tapi mereka tidak ikut bergerak …

    Ane khawatir, coba bayangkan ada seseorang di organisasi-organisasi yg
    antum kritik tsb … Yg sedang berusaha keras membangun ummat,
    mendapat kritikan antum … tapi dia hopeless tidak bisa berharap
    mendapat tangan antum.

    Atau ibaratkan lah organisasi itu seperti kapal yg sedang karam …
    dan kita hanya berteriak dari pinggir pantai … atau bahkan dari
    depan tv …
    Afwan, tapi DULU, ane sering merasakan hal-hal seperti ini … Ane
    cuma coba berempati terhadap semua yg telah bekerja untuk Islam.

    Gimana kalau dikerjakan apa yg bisa dikerjakan MIFTA … proyek open
    source masih kekurangan orang buat testing … buat membuat
    dokumentasi … kita juga tidak mempunyai Project Manager … tidak
    ada yg bsedia menjadi technical lead.

    Www

    Eko Budhi Suprasetiawan

  2. Wa’alaikum salam wr wb,

    — Eko Budhi Suprasetiawan <ekobs@ghifari.org > wrote:

    > On Thu, Mar 27, 2008 at 8:31 AM, A Nizami > wrote:
    >
    > > Seorang teman, Eko BS, menulis bahwa saat ini ada
    > dua
    > > sisi ekstrim. Ada juru dakwah yang aktif
    > berdakwah
    > > hingga ke pedalaman sehingga lupa mencari nafkah
    > dan
    > > hidup miskin sehingga keluarganya agak terlantar.
    >
    >
    > Aww
    >
    >
    > Tanpa mengurangi hormat ane ke ketua, kiranya mohon klarifikasi ini
    > pernyataannya ada di paragraf mana ya :((

    Itu adalah hasil pemahaman ana dari statement antum dan diskusi yang berjalan dgn akh Syauqie, akh Sofyan, dan akh Sabrul kemudian ana tuliskan lagi. Maaf jika pemikiran ktia masih beda. Nanti ana koreksi dgn copy paste biar tidak salah.

    ==
    > From: Ahmad Syauqie [mailto:syauqie@gmail.com
    > ] Klo ndak salah bulan lalu, aku ketemu
    > dengan seorang
    kawan
    > yang alhamdulillah, subhanallah, udah jadi pengusaha

    > sekaligus karyawan yang sukses. Dia punya beberapa
    toko
    > voucher pulsa dan gerobak bakso. Sekarang lagi
    merintis mobil
    > toko (moko) untuk toko voucher berjalan dan warteg
    berjalan.
    > Alhamdulillah ane juga invest di sana, walau
    sedikit. Tapi
    > dia memang ndak mau nerima investor banyak2, kecuali
    kawan
    > lama dan dekat. Soal kepercayaan dan persahabatan
    aja, katanya..
    >
    > Saya ingat sekali, dulu dia pernah “terjebak” dalam
    paradigma
    > “anti dunia”
    > alias tidak mau ngoyo mengejar dunia. Para tetangga
    sampai
    > prihatin ama kondisi istri dan anaknya yang -maaf-
    seperti
    > kurang gizi.
    ==
    > From: Eko Budhi Suprasetiawan
    > Setiap orang mempunyai mimpi, mempunyai harapan,
    mempunyai
    > visi masing-masing.
    >
    > Pada satu titik extreme adalah di mana seseorang
    memilih
    > untuk melakukan pengorbanan 100%. Dia memilih
    meninggalkan
    > mimpi pribadinya, dia meninggalkan kehidupan yg
    nyaman dan
    > menyerahkan diri untuk menemani mereka yang
    membutuhkan dia.
    > Di antara mereka, misalnya ada yang memilih menjadi
    dai,
    > menjalankan tugas ke daerah-daerah terpencil,
    pedalaman,
    > terbelakang untuk menyegarkan masyarakat dengan
    cinta-cinta Ilahi.
    >
    > Pada satu titik extreme adalah di mana seseorang
    bekerja
    > keras, berusaha sekuat tenaga meraih pencapaian demi

    > pencapaian di pusat-pusat peradaban modern, berdiri
    tegak
    > dengan karirnya di perusahaan-perusahaan kelas
    dunia. Mereka
    > mencapai apa yang diinginkannya : finansial,
    jaringan dan
    > kekuasaan. Di antara mereka ada yang berhasil
    mencapai Chief
    > Executive Officer di perusahaan kelas dunia !
    ==

    > From: fade2blac [mailto:spawn@postpi.com ]
    > “Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau
    letakkan
    > dihatiku…”

    ===
    > > Kita hitung parpol yang mayoritasnya Muslim ada
    > PKB
    > > (12% dari total suara), PPP (9%), PKS (7%), PAN
    > (7%),
    > > PBB (2%), PBR (1%). Total ada 44% atau hampir
    > separuh
    > > kursi. Bahkan di partai yang betul-betul sekuler seperti Golkar dan
    > > PDIP pun banyak Muslimnya.
    > Tapi
    > > kenapa kehidupan rakyat kita semakin menderita?
    > >
    > > Ini karena niat sebagian besar dari mereka jadi pejabat untuk jadi
    > > kaya. Bukan memperkaya ummat.
    >
    > Dengan segala kerendahan hati … please dech …
    > “sebagian besar” itu
    > berapa dan siapa saja ? Saya bukan pro-politik atau kontra-politik.
    > Politik itu suatu urusan duniawi, seperti juga uang dan harta …
    > perlu keseimbangan dalam berpikir.

    Akh, negara kita sering terpilih sebagai 5 besar terkorup di dunia. Bahkan pernah nomor satu. Sementara saat ini kalau antum lihat di tv penyakit busung lapar/kelaparan merajalela dan beberapa Balita sampai meninggal. Diperkirakan 5 juta Balita kena gizi buruk/busung lapar. Silahkan baca informasi lebih jauh di http://www.infoindonesia.wordpress.com

    Kalau sebagian besar masih lurus, hal ini tak mungkin terjadi. Ana tidak mau tunjuk hidung siapa-siapa.
    Kurang etis. Biar kita introspeksi diri masing2.

    > > Sehingga mereka diam saja melihat kemungkaran.
    > Mereka
    > > tutup mata melilhat pemborosan. Mereka tidak
    > berani
    > > bersuara ketika banyak rakyat busung lapar karena khawatir dicopot.
    >
    > Hati-hati akh.
    > Saya TRUST bahwa ADA yg baik …

    Oleh karena itu saya sering menulis dengan kata sebagian. karena memang ada juga yang baik meski tak banyak.

    > > Sebagian juga ada yang begitu dapat uang dari perusahaan asing
    > > langsung “berjihad” membela kepentingan perusahaan asing tersebut.
    > > Seorang
    > anggota
    > > DPD yang gigih memperjuangkan agar blok MIGAS
    > Cepu
    > > dikelola bangsa Indonesia sehingga hasilnya bisa dinikmati bangsa
    > > Indonesia cerita bahwa ada 2
    > “Ikhwan”
    > > yang menemuinya agar menghentikan suaranya
    > menolak
    > > perusahaan asing yang mengelola blok Cepu
    > tersebut.
    > > Para “Ikhwan” ini karena dapat uang akhirnya
    > membela
    > > kepentingan perusahaan asing yang kafir ketimbang memakmurkan rakyat
    > > Indonesia.
    >
    > Hati-hati …
    > Ummat islam sudah cukup dipecah belah oleh agen-agen asing. Membuat
    > kita tidak percaya satu sama lain. Ada persaingan antar harakah. Ada
    > salafy yg senantiasa menjatuhkan tarbiyah. Ada di antara kita yg
    > tarbiyah yg seringkali lalai akan tugas dakwah dan kadang terjebak
    > kepada permainan bola politik jangka pendek.

    Informasi tentang 2 ikhwan yang menemui pak Marwan untuk meminta pak Marwan menghentikan protesnya soal Blok Cepu itu kan pak Marwan sendiri yang bilang. Dan antum sebenarnya juga ada bersama ana di situ.

    Ini bukan jatuh menjatuhkan. Tapi amar ma’ruf nahi mungkar.

    > > Ada lagi pejabat dari partai Islam yang mengeluh
    > kalau
    > > gajinya yang 20 juta per bulan itu kurang.
    > Padahal
    > > gaji itu sudah lebih dari 128 kali angka
    > penghasilan
    > > rakyat miskin di Indonesia. Alasannya dia tidak
    > bisa
    > > “optimal” bekerja meski anggaran Departemennya trilyunan rupiah.
    >
    > Ini juga hati-hati karena melakukan generalisir secara berlebihan …

    Saya bilang ada lagi pejabat dan kata dia (bukan mereka). Bukan semua.

    > Dan menurut ane, krn tanggung jawab antum ada di lingkungan Muslim IT
    > Association, sebelum memberi evaluasi dan penilaian ke organisasi
    > lain/partai politik lain antum coba evaluasi kemampuan internal
    > organisasi kita dulu :D

    Ana menulis bukan sebagai ketua MIFTA. Tapi sebagai pribadi yang juga merupakan warga negara Indonesia dan seorang Muslim. Karena itu memakai email pribadi nizaminz@yahoo.com .

    Amar ma’ruf nahi munkar itu berjalan ke semua hal.
    Bukan cuma internal organisasi kita saja.

    Antum tentu turut prihatin melihat 5 juta balita kena busung lapar dan beberapa meninggal termasuk ibu Basse yang hamil 7 bulan dan anaknya yang berumur 5 tahun mati kelaparan.

    Kita wajib menghentikan kemungkaran macam itu dengan tangan, lisan, atau hati. Dan ana saat ini memang masih dalam taraf tulisan karena penghasilan ana baru cukup untuk membantu sekitar 10 orang saja…:)

    ==
    http://infoindonesia.wordpress.com/?s=basse
    Hari Sabtu 2 Maret 2008 di Indosiar dan SCTV diberitakan seorang ibu yang tengah hamil 7 bulan dan anaknya yang berusia 5 tahun mati kelaparan di Makassar, sementara anaknya yang berumur 4 tahun dalam keadaan kritis di Rumah sakit karena kelaparan.
    Suaminya yang tukang becak juga dirawat di Rumah Sakit karena kelaparan.
    ===

    > Ane khawatir, coba bayangkan ada seseorang di organisasi-organisasi yg
    > antum kritik tsb … Yg sedang berusaha keras membangun ummat,
    > mendapat kritikan antum … tapi dia hopeless tidak bisa berharap
    > mendapat tangan antum.

    Seperti kata akh Sabrul bilang, mungkin pengalaman antum dengan ana beda. Kebetulan ana telah bertemu dgn beberapa tokoh yang kelakuannya seperti yang ana tulis. Dan saya juga mendapat info berupa SMS atau keluhan dari teman2 juga.

    > Gimana kalau dikerjakan apa yg bisa dikerjakan MIFTA … proyek open
    > source masih kekurangan orang buat testing … buat membuat
    > dokumentasi … kita juga tidak mempunyai Project Manager … tidak
    > ada yg bsedia menjadi technical lead.

    Yang penting orang yang sudah commit harus tetap istiqomah. Jangan meninggalkan teman2 lainnya.

    Sebagai contoh untuk Universitas MIFTA saya sudah bantu untuk membuat situs dan mempromosikannya. Semoga ada teman2 lain yang bersedia membantunya agar tidak gagal.

    > Www
    >
    >
    >
    > Eko Budhi Suprasetiawan
    >

  3. “Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan letakkan
    dihatiku…” ini hadits bkn pernyataan siapapun atopun ahmad sofyan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: